Rabu, 24/07/2024 04:43 WIB

Aktivis 98 Tolak Watak Kekuasaan Orba Kembali

Semua tentu tidak ingin itu terjadi. Terutama, watak kekuasaan seperti Orba, karena ongkosnya sangat mahal.

Aktivis 98, Nezar Patria usai menjadi pembicara dalam diskusi 25 Tahun Reformasi di Graha Pena 98, Jakarta, Selasa (16/5). (Foto: Dok. Jurnas.com)

Jakarta, Jurnas.com - Sekretaris Jenderal Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) 1995-1998 Nezar Patria menyebut semua elemen bangsa tidak menginginkan watak rezim Orde Baru (Orba) kembali berlaku di Indonesia.

Pernyataan itu dilontarkan Nezar dalam diskusi berjudul Kesaksian Pelaku Sejarah sebagai rangkaian kegiatan Peringatan 25 Tahun Reformasi yang dilaksanakan Persatuan Nasional Aktivis (Pena) 98 di Jakarta, Selasa (16/5).

"Semua tentu tidak ingin itu terjadi. Terutama, watak kekuasaan seperti Orba, karena ongkosnya sangat mahal," katanya dalam diskusi.

Nezar kemudian mengatakan watak Orba ialah rezim yang membungkam suara, merampas tanah, menindas rakyat, memberedel media, sampai mengatur parpol.

"Jadi, jika ada suara kritis, langsung dituduh PKI. Kelar itu. Dituduh PKI kelar. Mati secara politik, pokoknya tidak ada ruang," kata aktivis 1998 itu.

Nezar pun merasa agenda reformasi dari mahasiswa bersama rakyat pada 1998 untuk menumbangkan Orba bisa tetap bertahan.

"Saya kira `98 apa pun orang bilang, `98 berhasil atau tidak berhasil, saya kira itu berhasil. Berhasil tentu saja tidak sempurna, karena watak 98 itu mendobrak," katanya.

Sebab, kata Nezar, agenda reformasi membawa Indonesia menjadi negara demokratis dan menghasilkan pemimpin yang berasal dari rakyat.

Dia kemudian menyinggung karier Joko Widodo (Jokowi) yang berasal dari rakyat, lalu bisa menjadi Wali Kota Solo, selanjutnya menjabat Gubernur DKI Jakarta, sampai terpilih sebagai Presiden RI.

"Presiden kita yang sekarang Pak Jokowi (Joko Widodo, red), itu buah demokrasi," kata Nezar.

Dia mengatakan sulit melihat sosok seperti Jokowi yang berakar dari rakyat menjadi pemimpin Indonesia apabila negara dikuasai rezim Orba.

"Selama Orba, enggak ada rakyat berdaulat. Rakyat enggak pernah diajak bicara agenda pembangunan. Tidak ada namanya Musrembang segala macam, semua terpusat, korporatis, dan di bawah kendali Orba," tandasnya.

 

KEYWORD :

Pena 98 aktivis gerakan mahasiswa Nezar Patria Orde Baru reformasi




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :