Kamis, 02/02/2023 08:20 WIB

Terbukti, Rokok Elektrik Bisa Jadi Opsi Turunkan Prevalensi Perokok Dewasa

Untuk pertama kalinya, riset ini telah memberikan kita bukti yang sangat meyakinkan bahwa rokok elektrik lebih efektif dalam membantu perokok untuk berhenti dibandingkan dengan terapi pengganti nikotin tradisional, seperti nikotin tempel dan permen karet, terlebih bila dibandingkan dengan yang berhenti tanpa bantuan alternatif sama sekali.

Ilustrasi rokok elektrik alias Vape. (Foto: Dok. Lifepal)

Jakarta, Jurnas.com - Para peneliti telah membuktikan kalau rokok elektrik memiliki efektivitas yang tinggi untuk digunakan sebagai alat berhenti merokok.

Hal ini sebagaimana studi yang dilakukan Jamie Hartmann-Boyce berjudul “Electronic Cigarettes for Smoking Cessation (Review)”.

Jurnal ini terbit dalam jaringan Cochrane, organisasi nonprofit asal Britania Raya yang berfokus pada studi kesehatan. Negara ini memang terbilang progresif dalam hal rokok elektrik. Bahkan sejak tahun 2021 vape telah didaftarkan sebagai produk medis di Inggris dan dokter dapat merekomendasikannya kepada perokok yang ingin berhenti.

“Untuk pertama kalinya, riset ini telah memberikan kita bukti yang sangat meyakinkan bahwa rokok elektrik lebih efektif dalam membantu perokok untuk berhenti dibandingkan dengan terapi pengganti nikotin tradisional, seperti nikotin tempel dan permen karet, terlebih bila dibandingkan dengan yang berhenti tanpa bantuan alternatif sama sekali,” kata peneliti utama Jamie Hartmann-Boyce sebagaimana dikutip Rabu (30/11).

Studi tersebut menunjukkan tingkat keberhasilan berhenti merokok dengan menggunakan rokok elektrik lebih tinggi dibanding terapi tradisional.

Selain itu, penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan terkait tingkat karbon monoksida, detak jantung, tekanan darah, dan kadar oksigen antara pengguna rokok elektrik dan terapi pengganti nikotin.

Di sisi lain, pengguna rokok elektrik cenderung lebih konsisten berkomitmen berhenti merokok, ketimbang pengguna terapi nikotin.

Menanggapi hasil riset tersebut, profesor kedokteran sistem pernafasan Imperial College London, Nicholas Hopkinson mendukung penggunaan rokok elektrik sebagai alat bagi perokok yang ingin berhenti, terutama mengingat risiko kesehatan yang disebabkan oleh merokok.

Ia menggarisbawahi aktivitas merokok sebagai pemicu dari berbagai kasus ketimpangan kesehatan, termasuk menjadi penyebab utama kematian prematur dan disabilitas. 

“Masih ada lebih dari 6 juta orang yang merokok di Britania Raya, dan temuan ini secara kuat mendorong agar rokok elektrik dapat menjadi salah satu opsi yang dapat membantu mereka berhenti,” kata Nicholas.

Senada dengan Nicholas, pimpinan kelompok riset tembakau dan alkohol University College London Sarah Jackson juga mendukung temuan riset Hartmann-Boyce. Ia menekankan, temuan ini menunjukkan bukti yang jelas, menggunakan rokok elektrik menghasilkan risiko yang lebih kecil dibandingkan dengan merokok.

Di dalam negeri riset serupa masih minim dilakukan. Beberapa periset melakukan analisis terhadap materi-materi studi yang dikembangkan di luar negeri, yang kemudian dicocokkan dengan kondisi di dalam negeri.

Peneliti Pusat Unggulan Iptek Inovasi Pelayanan Kefarmasian (PUIIPK) Universitas Padjajaran Auliya Suwantika menyuarakan pemerintah agar menyiapkan kerangka kebijakan yang berdasar pada bukti ilmiah.

“Kami menyarankan agar pemerintah menyusun kebijakan yang lebih komprehensif tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi,” kata Auliya.

Dia menambahkan, pemerintah juga perlu untuk memfasilitasi penelitian yang mendalam soal regulasi menurunkan prevalensi merokok di Indonesia.

Menurutnya, sudah waktunya bagi pemerintah melirik produk alternatif sebagai bagian dari program penurunan prevalensi merokok.

“Kami melihat ada potensi dari rokok elektronik untuk mengatasi angka prevalensi perokok dewasa di Indonesia,” lanjut Auliya, dalam kesempatan yang berbeda.

Berdasarkan tinjauannya, Auliya menambahkan, produk-produk tembakau alternatif seperti vape, tembakau yang dipanaskan, maupun snus (kantung nikotin), memiliki potensi yang besar untuk dimanfaatkan sebagai alat bantu mengurangi hingga berhenti merokok.

Produk-produk alternatif tersebut memiliki risiko yang sangat kecil dibandingkan dengan rokok konvensional.

Sebelum penelitian tersebut dipublikasikan, Mantan Direktur Riset Kebijakan dan Kerja Sama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tikki Pangestu pada berbagai kesempatan sudah mengisyaratkan keefektifan rokok elektrik sebagai alat berhenti merokok.

Menurutnya, pemerintah dapat melakukan strategi pengurangan bahaya dengan menggunakan produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik.

“Itu adalah strategi kunci untuk mengatasi masalah yang sangat kompleks ini. Produk hasil pengembangan teknologi dan inovatif seperti ini memiliki potensi sangat besar,” kata Tikki.

Saat ini Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) sebagai lembaga negara yang mengoordinasikan riset di Indonesia sudah menyiapkan sumber daya sebagai platform terbuka yang dapat diakses semua pihak, termasuk industri.

Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengamini riset terkait tembakau sangat penting untuk menunjang pertumbuhan dan kesinambungan industri hilir dalam jangka panjang. Penelitian ini juga termasuk di antaranya soal pengembangan esens berbasis tembakau, baik untuk produk rokok elektronik maupun farmasi.

 

 

TAGS : rokok elektrik vape tembakau BRIN




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :