Sabtu, 03/12/2022 18:57 WIB

Membuka Sidang Tahunan, Ketua MPR Ingatkan Krisis Global dan Ancaman Inflasi Nasional

Bulan September 2022 diprediksi akan menghadapi ancaman hiper-inflasi, dengan angka inflasi pada kisaran 10 hingga 12 persen.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo. Foto: jurnas.com

JAKARTA | Jurnas.com  – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo Mengingatkan semua pihak terjadinya krisis global akibat perang Ukraina dengan Rusia yang berdampak kepada sektor ekonomi Indonesia, termasuk ancaman inflasi nasional yang terus mmerangkak naik.

Peringatan ini disampaikan Bamsoet, demikian biasa dipanggil, saat membuka sidang tahunan MPR dalam rangka laporan tahunan lembaga-lembaga negara yang berlangsung hari ini di Komplek Parlemen, Jakarta, Selasa (16/8/2022).

“Kondisi global saat ini semakin tidak menentu. Semua negara sedang berupaya keras memulihkan ekonominya, pasca pandemi Covid-19. Namun, fase ini terganggu oleh dinamika global, seperti konflik RusiaUkraina, perang dagang dan teknologi Amerika SerikatTiongkok, ketegangan baru di Selat Taiwan, serta disrupsi rantai pasok yang berimplikasi pada fluktuasi harga komoditas pangan dan energi,” kata Bamsoet mengawali pidatonya.

Menurutnya, perang dengan alasan apa pun, selalu membawa petaka, kehancuran, dan kesengsaraan. Menghancurkan peradaban, yang telah dibangun berabad-abad lamanya. Membawa krisis kemanusiaan, krisis ekonomi, krisis pangan, dan krisis energi.

“Menurut Badan Pengungsi PBB, UNHCR, dalam kurun waktu kurang dari dua bulan sejak pasukan Rusia memulai perang di Ukraina, sebanyak 5 juta warga Ukraina telah meninggalkan negara mereka. Warga Ukraina kini merupakan kelompok pengungsi kedua terbesar di dunia, setelah pengungsi Suriah yang jumlahnya mencapai 6,8 juta,” kata Bamsoet.

Perang antara Rusia dan Ukraina, juga telah menyebabkan sekitar 7,1 juta warga Ukraina terpaksa kehilangan tempat tinggal mereka di negaranya. Jumlah tersebut merupakan jumlah populasi terbesar di dunia, yang harus kehilangan tempat tinggal mereka sendiri akibat konflik yang melanda. Perang di Ukraina telah memicu krisis pengungsi dan krisis kemanusiaan yang tumbuh paling cepat.

Saat ini, sekitar 320 juta penduduk dunia berada dalam kondisi kelaparan akut.

Menurut data IMF dan Bank Dunia, perekonomian 66 negara diprediksi akan bangkrut dan ambruk. Pelambatan dan kontraksi pertumbuhan ekonomi global, semakin diperburuk oleh tingginya kenaikan inflasi.

Beruntung berdadasaarkan hasil survei Bloomberg, Indonesia dinilai sebagai negara dengan resiko resesi yang kecil, hanya tiga persen, jauh jika dibandingkan dengan rata-rata negara Amerika dan Eropa, yang mencapai 40 hingga 55 persen, ataupun negara Asia Pasifik pada rentang antara 20 hingga 25 persen.

“Namun demikian, kita tidak boleh lalai. Kenaikan inflasi dapat menjadi ancaman bagi perekonomian nasional,” tuturnya.

Mengutip Badan Pusat Statistik, Bamsoet menyampaikan bahwa per Juli 2022, laju inflasi Indonesia berada di level 4,94 persen, dan pada bulan Agustus diprediksi akan meningkat pada kisaran 5 hingga 6 persen.

“Bahkan pada bulan September 2022, kita diprediksi akan menghadapi ancaman hiper-inflasi, dengan angka inflasi pada kisaran 10 hingga 12 persen,” katanya.

“Laju kenaikan inflasi, disertai dengan lonjakan harga pangan dan energi, semakin membebani masyarakat, yang baru saja bangkit dari pademi Covid-19,” imbuh Bamsoet.

TAGS : MPR Bamsoet Pidato Tahunan Krisis Global Inflasi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :