Kamis, 11/08/2022 18:17 WIB

Legislator Demokrat Minta Pemerintah Serius Atasi Persoalan Pertashop

Hendrik menegaskan, jumlah konsumen BBM di Pertashop makin menyusut setelah PT Pertamina (Persero) menaikkan harga Pertamax mendekati level keekonomiannya.

Ilustrasi Pertashop. (Foto: Dok. Suara.com)

Jakarta, Jurnas.com - Kalangan dewan menyebut banyak Pertashop mati suri karena adanya gap harga antara Pertamax dan Pertalite.

Menurut Anggota Komisi VII DPR, Hendrik Sitompul, pelanggan Pertashop umumnya memilih membeli bahan bakar minyak (BBM) penugasan jenis Pertalite di SPBU ketimbang Pertamax di Pertashop.

"Masalah Pertashop ini sangat serius. Tolong pemerintah merespons cepat," ujarnya, Kamis (9/6).

Pertashop merupakan lembaga penyalur resmi berskala kecil yang menyediakan BBM non-subsidi dan produk lain dari Pertamina di daerah yang jauh dari SPBU.

Hendrik menegaskan, jumlah konsumen BBM di Pertashop makin menyusut setelah PT Pertamina (Persero) menaikkan harga Pertamax mendekati level keekonomiannya.

Kenaikan itu membuat selisih harga jual Pertamax dengan Pertalite makin lebar, yakni Rp 5.000 per liter. Menurut Hendrik, persoalan mati surinya Pertashop merupakan masalah serius karena unit usaha itu banyak dikelola masyarakat kecil.

“Mereka meminjam uang dari bank untuk membangun Pertashop,” ucap Hendrik.

Ketika harga Pertamax naik, sementara harga Pertalite tidak mengalami perubahan, bisnis Pertashop goyah karena pemiliknya harus tetap membayar pinjaman bank. Adapun merujuk pada data penawaran kemitraan Pertamina, modal usaha untuk membangun Pertashop berkisaar Rp 250 juta hingga Rp 500 juta.

"Karena mati suri tidak mampu lagi membayar, akhirnya kredit macet, Pertashop disita oleh bank. Kami sangat prihatin karena mereka adalah orang-orang kurang mampu yang meminjam uang dari bank untuk membangun itu," kata Hendrik.

Politikus Partai Demokrat itu mengaku sering mendapatkan pertanyaan dari pengusaha Pertashop mengenai kapan harga Pertalite akan naik dan apakah harga Pertamax bakal terkerek lagi.

Di sisi lain, ia mengungkap rencana paguyuban Pertashop akan melakukan unjuk rasa ke Kementerian BUMN untuk meminta pertanggungjawaban.

Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga mencatat konsumsi Pertamax anjlok hingga 20 persen akibat konsumen BBM non-subsidi beralih membeli BBM bersubsidi. Saat ini, harga jual Pertamax Rp 12.500 per liter, sedangkan harga jual Pertalite Rp 7.650 per liter.

 

TAGS : Warta DPR Komisi VII Hendrik Sitompul Pertashop Pertamax Demokrat




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :