Kamis, 07/07/2022 03:00 WIB

Nilai Keindonesiaan Harus Diimplementasikan Sebagai Cara Hidup Untuk Bangkit dari Krisis

Indonesia hari ini, tidak hanya berhadapan dengan tantangan infiltrasi ideologi tetapi juga berhadapan dengan nilai yang mereduksi kekayaan nilai pada sikap skeptis dan pesimistis.

Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat dalam Focus Group Discussion yang digelar bersama MPR RI, Forum Diskusi Denpasar 12 dan Nenilai bertema Nilai-nilai Baik untuk Indonesia Bangkit; Sebuah Renungan Kebangkitan Nasional di ruang Delegasi di gedung DPR/MPR Jakarta, Rabu (18/5). (Foto: Humas MPR)

Jakarta, Jurnas.com - Nilai-nilai keindonesiaan harus dimplementasikan sebagai cara hidup. Karena melalui nilai-nilai itu, Indonesia mampu bangkit dari setiap krisis dan tantangan yang dihadapi.

"Bicara tentang nilai-nilai baik dari bangsa ini, kita bisa gali kembali pikiran-pikiran besar para pendiri bangsa seperti yang tercetus pada peristiwa Kebangkitan Nasional 1908 dan Sumpah Pemuda 1928," kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat saat membuka Focus Group Discussion yang digelar bersama MPR RI, Forum Diskusi Denpasar 12 dan Nenilai secara hybrid bertema Nilai-nilai Baik untuk Indonesia Bangkit; Sebuah Renungan Kebangkitan Nasional di ruang Delegasi di gedung DPR/MPR Jakarta, Rabu (18/5).

Menurut Lestari, bangsa ini harus memahami apa yang akan dilakukan dan didalami terhadap nilai-nilai yang dimiliki.

Apalagi, ujar Rerie, sapaan akrab Lestari, Indonesia hari ini, tidak hanya berhadapan dengan tantangan infiltrasi ideologi tetapi juga berhadapan dengan nilai yang mereduksi kekayaan nilai pada sikap skeptis dan pesimistis.

Sebagai sebuah entitas dengan keberagaman, Rerie menilai Indonesia memiliki filosofi kehidupan berbangsa yang bersumber dari Pancasila, UUD 1945, tata aturan lain yang menjamin keutuhan kehidupan berbangsa berbasis pada rasa kesatuan, nasionalisme yang utuh sejak digaungkan tahun 1908.

Founder/Managing Director, Barrett Academy for The Advancement of Human Values, Richard Barrett mengungkapkan kesejahteraan personal akan membentuk kesejahteraan nasional

Indonesia, menurut Richard, mempunyai modal sosial yang baik untuk menuju kesejahteraan lewat nilai-nilai gotong-royong yang dimiliki.

Chair Women20, Uli Silalahi berpendapat peran perempuan menjadi kunci penanaman nilai-nilai baik kepada keluarga.

Besarnya dampak yang dilakukan perempuan itu, tambah Uli, maka perempuan butuh pemberdayaan agar mampu menanamkan nilai-nilai secara baik terhadap lingkungannya.

Pemberdayaan perempuan, jelas Uli, kunci dalam keberhasilan pembangunan di masa datang. Dunia digital, ujar Uli, bisa mendorong percepatan pemahaman nilai-nilai yang kita miliki.

Direktur Operasional Pertamina Foundation, Yulio S. Bulo tertarik dengan pendapat Barret yang mengungkapkan pembangunan kesejahteraan sosial satu negara harus dimulai dari keluarga.

Menurut Yulio, kalau proses penanaman nilai-nilai dimulai dari rumah, orang tua harus memiliki tingkat intelektual yang baik atau dari kalangan terpelajar.

Yulio menilai era digital berpotensi membuat generasi muda terkungkung dengan nilai-nilai yang disukainya saja akibat pengaturan algoritma sosial media yang dimilikinya.

Sehingga, tambahnya, perlu upaya yang lebih intens untuk menanamkan nilai-nilai baru kepada generasi muda lewat cara-cara yang lebih terukur.

Direktur SPAK, Maria Kresentia mengungkapkan bahwa korupsi dekat sekali dengan keseharian kita. Karena itu, tambahnya, nilai-nilai antikorupsi harus ditanamkan sejak dini lewat permainan yang menyenangkan.

Dengan permainan itu, ujar Maria, komunitasnya menyampaikan nilai-nilai antikorupsi kepada keluarga dan masyarakat.

Karena, menurut Maria, tindak korupsi merupakan awal dari pelanggaran terhadap nilai-nilai. Sehingga penting untuk menanamkan nilai-nilai antikorupsi pada kelompok usia dini hingga orang dewasa.

Direktur SDM Food ID, Endang Suraningsih menilai keberagaman merupakan nilai-nilai yang kita miliki.

Menurut Endang, pelangi itu indah karena berwarna-warni. Perbedaan itu bukan untuk diperbandingkan, tapi untuk disandingkan agar memperlihatkan keindahan.

Keberagaman atau gender diversity di lingkungan BUMN, ujar Endang, memberi dampak positif terhadap perkembangan bisnis.

Menurut Kepala Divisi Institutional Relations, Mind ID, Niko Chandra, membicarakan nilai-nilai sangat terkait dengan pengembangan entitas bisnis

Perusahaan dengan corporate value, jelas Niko, memiliki peluang tumbuh dua kali lebih besar dari yang tidak menerapkan nilai-nilai tertentu.

Politisi Partai NasDem, Prof Bachtiar Aly berpendapat modal sosial yang kita miliki harus terus digaungkan kembali bagaimana kita bicara lebih santun, membangun gotong-royong dan keberagaman.

Tingkat kemarahan masyarakat yang tinggi saat ini, ujar Bachtiar, harus dijawab dengan membuka ruang seluas-luasnya untuk menyampaikan pendapat di ruang publik.

Jurnalis senior, Saur Hutabarat menegaskan soal besar yang kita hadapi saat ini adalah mengakhiri kontradiksi yang ada dari jerat nilai-nilai yang kita miliki.

"Bagaimana dengan modal sosial yang begitu besar bisa terjadi berbagai korupsi di negeri ini?" ujar Saur.

Untuk mengakhiri kondisi ini, Saur menegaskan, harus diwujudkan perluasan keteladanan kolektif terhadap nilai-nilai keindonesiaan yang kita miliki.

TAGS : Kinerja MPR Lestari Moerdijat Nilai Bangkit Ideologi Perbedaan




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :