Selasa, 05/07/2022 23:38 WIB

CIPS Minta Pemerintah Pertimbangkan Relaksasi Impor Pangan

Relaksasi impor bisa digunakan untuk menjaga kestabilan perubahan harga. 

Tampak seorang ibu sedang memesan cabai di salah satu pasar (Foto: Ist)

JAKARTA, Jurnas.com – Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengatakan, saat ini harga beberapa komoditas pangan naik, akibat faktor internal dan eksternal, salah satunya invasi Rusia ke Ukraina. Pemerintah pun perlu mempertimbangkan opsi merelaksasi impor pangan.

"Sejauh ini inflasi Indonesia masih cukup terkendali. Produk-produk pangan yang selama ini memang dikontrol perdagangannya bisa direlaksasi kuotanya jika memang inflasi mulai menekan. Kebetulan selama ini harga pangan di Indonesia memang sudah lebih mahal daripada pasar dunia akibat pembatasan impor," terang Associate Researcher CIPS, Krisna Gupta dalam keterangannya.

Ia menambahkan, relaksasi impor bisa digunakan untuk menjaga kestabilan perubahan harga. Di samping itu, sepertinya kenaikan harga beras masih lebih terkendali dibandingkan gandum, jagung ataupun kedelai.

Indonesia memiliki hubungan dagang yang cukup jauh dengan Ukraina dan Rusia. Hal itu bisa dilihat dari nilai total impor kedua negara hanya berkontribusi pada sekitar 1 persen dari total impor Indonesia. Sementara itu jumlah investasi Rusia maupun Ukraina ke Indonesia juga tidak signifikan.

Meski demikian, keduanya merupakan sumber utama beberapa barang impor. Ukraina memasok sekitar lebih kurang 24% dari total impor gandum Indonesia pada tahun 2020. Sementara itu, pupuk impor asal Rusia menyumbang sekitar 15% dari total pupuk impor Indonesia.

Keduanya banyak membeli produk minyak nabati (kelapa sawit) Indonesia. Walaupun begitu, jumlah transaksinya hanya sekitar 0,5 persen dari total ekspor sawit Indonesia pada tahun 2020.

Walaupun jumlah impor gandum dari Ukraina tidak terlalu besar, Indonesia tetap perlu mencari sumber pemasok gandum lain untuk menghindari dampak kelangkaan kalau perang terus berlangsung. Hal ini dibutuhkan untuk menghindari kelangkaan dan kenaikan harga pada bahan pangan yang bersumber dari gandum.

Gandum sebagian besar digunakan untuk penggilingan tepung terigu, yang tidak hanya dipakai konsumen, tapi juga produsen mie instan, pasta, roti, hingga kue-kue dan jajanan pasar. Padahal, tanpa perang inipun, harga gandum dunia sedang naik-naiknya karena bottleneck supply akibat masalah cuaca.

Indonesia perlu mewaspadai kenaikan harga komoditas pangan selain gandum. Terganggunya pasokan pupuk dunia berpotensi menaikkan harga pupuk yang sudah mahal karena harga gas dan larangan ekspor pupuk oleh China. Kekurangan pasokan pupuk dapat menyebabkan harga-harga komoditas, misalnya saja jagung dan kedelai, semakin tinggi.

Ketersediaan pasokan pupuk juga tidak kalah penting karena pupuk digunakan oleh semua tanaman. Harga gas Indonesia juga terus naik seiring meningkatnya kebutuhan pabrik-pabrik smelter yang mulai beroperasi. Di samping itu, jika pupuk nonsubsidi semakin mahal, maka peluang untuk menyelundupkan pupuk bersubsidi semakin tinggi.

Relaksasi dapat dilakukan dengan membuka kuota impor. Beberapa komoditas pangan dikenakan kuota impor demi menjaga nilai tukar petani dan juga menjaga volatilitas harga. Ketika suplai domestik dirasa cukup, maka keran impor akan ditutup. Namun ketika harga mulai dirasa terlalu tinggi, maka keran impor dibuka.

Kuota impor mengakibatkan harga domestik selalu lebih tinggi daripada harga internasional secara konstan. Ketika harga domestik dirasa terlalu tinggi, terjadi karena gagal panen misalnya, maka kuota impor segera dibuka supaya kenaikan harga dapat dibatasi. Selama harga internasional selalu lebih rendah daripada harga domestik, maka cara ini akan selalu bisa dilakukan.

"Akan tetapi, jika harga pangan dunia naik terlalu tinggi melebihi harga domestik, maka meskipun kuota impor dibuka sebebas-bebasnya, maka harga tidak akan turun. Jadi, jika harga domestik naik, kita tinggal buka keran impor. Selama harga internasional selalu lebih rendah daripada harga domestik, maka cara ini akan bisa mengendalikan inflasi," jelasnya.

TAGS : Harga Pangan Impor Perang Rusia dan Ukraina Kelapa Sawit




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :