Kamis, 19/05/2022 12:01 WIB

Percepat Penurunan Stunting, BKKBN Tekankan Pentingnya Kerja Sama Lintas Sektor

Kerja sama lintas sektor sangat penting dalam mempercepatan penurunan stunting, yang saat ini berada di angka 24,4 persen.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dokter Hasto Wardoyo mengukuhkan Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah Atikoh Ganjar Pranowo sebagai Bunda Genre (Generasi Berencana), sekaligus menjadi Duta Penurunan Stunting dilakukan di The Royal Surakarta Heritage, Kamis (23/12).

Bandung, Jurnas.com - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bersama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) menyerahkan bantuan beras bervitamin (Fortivit) di Kabupaten Bandung Barat ke masyarakat, yang berpotensi stunting di Lembang, Bandung Barat.

Pada kesempatan tersebut, Plt. Bupati Kabupaten Bandung Barat, Hengky Kurniawan Chova mengapresiasi dukungan BKKBN dan Perum Bulog dalam mempercepat penurunan stunting, khususnya yang ada di wilayahnya.

"Bagi kami, ini sesuatu yang luar biasa. Kami menyadari pemerintah tidak boleh sendiri. Butuh kolaborasi penta helix," ucap Hengky pada kegiatan Penyerahan Bantuan Beras Fortivit di Kabupaten Bandung Barat, Kamis (27/1).

Hengky menjelaskan, saat ini Dinas Pengendalian Keluarga Berencana Kabupaten Bandung Barat dalam usaha percepatan penurunan stunting sebagaimana yang diinstruksikan Kepala BKKBN Bapak Hasto Wardoyo.

Di tempat terpisah, Hasto mengatakan kerja sama lintas sektor sangat penting dalam mempercepatan penurunan stunting, yang saat ini berada di angka 24,4 persen.

"Kami yakin, kerja sama lintas sektor ini akan mendukung upaya-upaya bersama sehingga tercapainya tujuan besar dalam mewujudkan generasi Indonesia yang lebih sehat dan berkualitas. Penurunan stunting harus dilakukan melalui perluasan cakupan seluruh Kabupaten Kota dan harus melibatkan, integrasi lintas institusi," kata Hasto.

Hasto menjelaskan, pada kasus balita dan anak, Anemia Defisiensi Besi (ADB) bermula dari kurangnya zat gizi mikro pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK).

"Dampaknya berpengaruh pada tumbuh kembang anak yang terganggu, penurunan aktivitas fisik maupun kreativitas, serta menurunnya daya tahan tubuh sehingga meningkatkan risiko infeksi. Sedangkan pada kasus remaja, ADB dapat menurunkan produktivitas dan kemampuan akademis," ujarnya.

Disebutkan Hasto, kondisi ADB pada kehamilan usia remaja juga rentan terhadap keselamatan dan kesehatan ibu dan bayi. "Oleh karena itu, urgensi perbaikan gizi masyarakat difokuskan pada 1000 HPK dan usia remaja," kata Hasto.

TAGS : Beras Fortivit Bandung Barat BKKBN Hasto Wardoyo Hengky Kurniawan Chova




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :