Jum'at, 21/01/2022 00:57 WIB

Kementan Bangkitkan Pengembangan Budidaya Koro Pedang

Koro pedang merupakan komoditas tanaman pangan yang terlupakan namun memiliki banyak khasiat dan keunggulan terutama secara ekonomi sehingga menjadi perhatian untuk dikembangkan.

Kacang koro pedang. (Foto: net)

JAKARTA, Jurnas.com - Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperluas pengembangan komoditas yang memiliki pontesi ekonomi guna meningkatkan kesejahteraan petani dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Koro pedang merupakan komoditas tanaman pangan yang terlupakan namun memiliki banyak khasiat dan keunggulan terutama secara ekonomi sehingga menjadi perhatian untuk dikembangkan.

"Mari kita manfaatkan pangan lokal, pangan lokal itu punya nilai gizi tinggi. Tinggal bagaimana kita bisa mengolahnya supaya ada nilai tambah dan sudah ekspor ke luar negeri," kata Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, Suwandi dalam webinar Propaktani, Kamsi (13/1).

Menurut Suwandi, koro pedang telah lama dikenal di Indonesia, namun kompetisi antar jenis tanaman menyebabkan tanaman ini tersisih dan jarang ditanam dalam skala luas.

Tanaman ini dapat digunakan sebagai pupuk hijau, polong muda digunakan untuk sayur, sebagai bahan tambahan dalam fermentasi berbagai makanan tradisional seperti kecap, tempe, tahu, dan tauco

"Banyak makanan terfermentasi dibuat dengan bahan dasar kedelai, yang sebenarnya dapat dicampur dengan aneka kacang potensial," ujar Suwandi, yang juga mantan Dirjen Hortikultura itu.

Suwandi menambahkan, berbagai pangan lokal Indonesia yang dimuat dalam cara bertindak 2 (CB2) terkait diversifikasi produksi dan pangan lokal seperti jagung, ubi jalar, ketela, singkong, talas, sagu dan lainnya diolah sedemikian rupa sebagai pangan pokok.

"Prinsipnya adalah produksi dalam negeri, konsumsi pangan lokal, hargai jerih payah petani. Kalau yang jual petani jangan ditawar, Viva Republik Indonesia," ujarnya.

Akademisi Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB University, Heny Purnamawati menyebutkan biji koro pedang cukup prospektif sebagai alternatif pengganti kedelai karena kandungan proteinnya hampir sama dengan kedelai yaitu 30,36 persen sedangkan kedelai 35 persen.

Selain itu produktivitasnya cukup tinggi dibandingkan jenis kacang tanah, kacang hijau dan kedelai, yaitu 4 hingga 20 ton per hektare, sedangkan pupuk hijaunya sekitar 40-50 ton per hektare.

"Tempe kedelai memiliki protein dan lemak sedangkan koro pedang memiliki protein dan pati. Nah ragi ini suka dengan adanya pati, jadi kita harus bisa mengendalikan. Jadi kelewatan sedikit proses fermentasinya maka tempe akan mejadi asam. Memang tempe koro pedang ini mempunyai kelemahan dari daya simpannya. Tempe koro pedang tidak tahan lama seperti tempe kedelai, namun hal ini dapat disiasati dengan mendistribusikan produk dalam bentuk tempe potong dalam kemasan," jelasnya.

Ia mengatakan, tanaman ini mudah dibudidayakan dan ditumpangsarikan dengan tanaman lain seperti ubi kayu, jagung, kopi dan lain-lain, sehingga cukup potensial untuk dikembangkan.

"Tanaman koro pedang memiliki sistem perakaran yang dalam sehingga cukup tahan terhadap kekeringan dan adaptif pada lahan kering masam," lanjut Heny.

Sementara itu, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta, Badan Litbangtan Kementan, Soeharsono mengatakan beberapa keunggulan dari koro pedang, antara lain memiliki adaptasi yang luas pada lahan suboptimal, mudah dibudidayakan secara tunggal , cepat menghasilkan dengan biomasa untuk pupuk hijau atau pakan dan mengandung protein tinggi, dimana biji putih mencapai 27,4 persen dan koro pedang biji merah 32 persen.

"Potensi hasilnya pun tinggi yakni 3,81 ton perhektar dan biomasa atau hijauan 2,48 ton perhektar dan juga potensi hasilnya tinggi 1,0 sampai 4,5 biji kering perhektar mencapai 12 ton perhektar. Kemudian, dapat dipanen mulai 4 bulan selama siklus hidupnya mencapai 15 bulan," paparnya.

Pemerintah Daerah pun mengembangkan UMKM berbasis Koro Pedang di Yogyakarta, seperti di Kampung Srawung, Gedongkuning, Rejowinangun, Kota Gede, Yogyakarta dengan produk tempe dan Kampung Mengger, Pulutan, Wonosari, Gunungkidul dengan produk tempe, kripik, kecap, tauco dan egg roll.

Kacang koro pedang, koro benguk dan kecipir merupakan beberapa bahan baku yang mungkin dapat digunakan sebagai bahan pemenuh atau substitusi kedelai.

Penelitian membuktikan bahwa tahu dapat dibuat dari biji kecipir, serta substitusi kedelai dengan aneka biji koro. Pilihan bahan-bahan dasar tersebut disebabkan karena kacang koro pedang, koro benguk, dan kecipir memiliki kandungan kimia yang hampir sama dengan kedelai, sehingga diharapkan dapat diperoleh tahu dengan kualitas yang tidak kalah dengan tahu dari kedelali murni.

Dari sekian banyak alternatif, tanaman koro pedang merupakan salah satu pilihan terbaik. Melalui pendayagunaan koro pedang, maka ketergantungan impor kedelai dapat dikurangi yaitu melakukan substitusi kedelai dengan koro pedang.

TAGS : Koro Pedang Tanaman Pangan Suwandi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :