Rabu, 18/05/2022 23:14 WIB

Seniman Tato Menjerit pasca Muncul Larangan Alkohol Isopropil

Nasib seniman tato di Uni Eropa berubah suram, usai blok tersebut mengumumkan larangan penggunaan ribuan bahan kimia, yang selama ini digunakan dalam tinta tato.

Seniman melukis tato di lengan (Foto: BBC)

Brussels, Jurnas.com - Nasib seniman tato di Uni Eropa berubah suram, usai blok tersebut mengumumkan larangan penggunaan ribuan bahan kimia, yang selama ini digunakan dalam tinta tato.

Pembatasan yang mulai berlaku pada Selasa (4/1) kemarin itu berlaku untuk zat yang dapat menyebabkan kanker atau masalah kesehatan lainnya, dan terutama mempengaruhi tinta berwarna. Uni Eropa mengatakan aturan itu akan mengurangi jumlah reaksi yang merugikan.

Tetapi para seniman tato mengeluh bahwa tinta pengganti tidak mudah tersedia, dan mungkin tidak sesuai dengan keinginan pelanggan.

Mereka berdalih, setelah dua tahun kesulitan yang disebabkan oleh pandemi, kini tidak ada cukup waktu untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan terbaru.

"Virus corona, dengan penutupan selama berbulan-bulan, telah sangat mengguncang kami. Kemudian ini yang terbaru," kata seniman tato Hamburg Sebastian Makowski dikutip dari BBC pada Rabu (5/1). Dia menyebut perubahan itu sama saja dengan larangan parsial pada bisnisnya.

UE memperkirakan hingga 12 persen orang Eropa memiliki tato, dan jumlahnya dua kali lipat di antara orang dewasa muda. Di Jerman saja, satu dari lima orang diperkirakan memiliki tato, sementara di Belgia pemerintah mencatat 500.000 tato baru dilukis setiap tahun.

Peraturan Uni Eropa yang diperbarui tentang bahan kimia, yang dikenal sebagai Reach, disetujui oleh semua negara anggota pada tahun 2020. Larangan tersebut mencakup 4.000 bahan kimia termasuk alkohol isopropil, bahan umum dalam tinta tato, meskipun para pejabat mengatakan penggantinya sudah tersedia.

Badan Kimia Eropa, yang membantu merancang undang-undang baru, mengatakan tinta bisa berbahaya, menyebabkan "alergi kulit dan dampak kesehatan yang lebih serius lainnya, seperti mutasi genetik dan kanker".

Ia menegaskan bahwa aturan baru tidak dimaksudkan untuk melarang tato dan make-up permanen, tetapi hanya untuk membuatnya lebih aman.

"Saya tidak melihat ada orang yang mengalami alergi serius setelah tato," tegas Ahli tato Belgia Filippo Di Caprio kepada penyiar Belgia RTBF.

Peneliti dermatologi Jerman Wolfgang Bäumler mengatakan kepada majalah Die Zeit, bahwa dia dan rekan-rekannya telah mensurvei 3.400 orang dalam sebuah penelitian tahun 2010. Dia menemukan bahwa dua pertiga responden mengeluhkan reaksi segera setelah tato, dengan 6 persen melaporkan masalah selama beberapa minggu.

Industri tato berpendapat tidak ada bukti kuat untuk secara langsung menghubungkan tato dengan kanker, dan khawatir peraturan tersebut dapat menyebabkan lebih banyak tato malah diperjualbelikan di pasar gelap.

Pembatasan lebih lanjut akan diperkenalkan dalam waktu satu tahun. UE telah memberikan masa tenggang untuk dua warna umum, biru dan hijau, untuk memberikan waktu sampai alternatif ditemukan.

TAGS : Seniman Tato Uni Eropa Alkohol Isopropil




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :