Kamis, 26/05/2022 06:02 WIB

Caleg Gagal Jadi Direksi Antam Bukti BUMN Alat Barter Politik

Antam seperti BUMN lainnya itu kan perusahaan Negara. Perusahaan dibidang pertambangan yang diharapkan bisa menjadi tulang punggung bagi negara, memberikan devisa yang besar. Akan tetapi kenyataannya kan tidak, rapat terakhir di DPR itu terlihat semua.

Ilustrasi kantor Antam. (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - PT Aneka Tambang (Persero) yang merupakan anggota dari MIND ID (Mining Industry Indonesia) pekan ketiga Desember 2021 menggelar Rapat Umum Pemenang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

Forum rutin tahunan itu diselenggarakan BUMN Holding Industri Pertambangan dengan merombak jajaran direksi. Antam menunjuk mantan Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menjadi Direktur Utama perusahaan yang baru, Nikolas D Kanter.

Untuk komisaris, tercatat ada nama FX Sutijastoto sebagai Komisaris Utama dan Independen, Gumilar Rusliwa Somantri sebagai Komisaris Independen, Anang Sri Kusuwardono sebagai Komisaris Independen dan dua orang lainnya sebagai komisaris yaitu Dio Seno Widagdo dan Bambang Sunarwibowo.

Adapun jajaran direksi tercatat Nicolas D Kanter sebagai Direktur Utama, Direktur Operasi dan Produksi I Dewa Bagus Sugata, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Elisabeth RT Siahaan, Direktur Pengembangan Usaha Dolok Robert Silaban dan Direktur SDM Basar Simanjuntak.

Dari nama-nama itulah kemudian publik menilai jika dua di jajaran direksi yang dinilai tidak layak. Keduanya adalah Basar Simanjuntak dan Dolok Robert Silaban. Kritik salah satunya dilayangkan Komunikolog Politik Nasional Tamil Selvan.

Kata dia, perusahaan yang bergerak di bidang eksplorasi, penambangan, pengolahan serta pemasaran dari komoditas bijih nikel, feronikel, emas, perak, bauksit, dan batubara itu diisi orang-orang yang sarat dengan kepentingan. Padahal, perusahaan plat merah semestinya diisi orang yang profesional dalam rangka `membantu` pemerintah.

"Antam seperti BUMN lainnya itu kan perusahaan Negara. Perusahaan dibidang pertambangan yang diharapkan bisa menjadi tulang punggung bagi negara, memberikan devisa yang besar. Akan tetapi kenyataannya kan tidak, rapat terakhir di DPR itu terlihat semua," tegas Tamil melalui sambungan telepon, Selasa (4/1).

Dia mengungkapkan kritik dan masukan publik melalui media sosial, hendaknya dilihat secara proporsional. Bukan secara telanjang dilihat karena menyerang direksi Antam dari sisi suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).

"Kritik itu jangan dipenetrasikan sebagai tindakan atau opini bernuansa SARA oleh netizen. Tetapi dilihat sebagai gambaran muaknya masyarakat, kemurkaan masyarakat terhadap kinerja Antam," tegas Tamil.

Diungkapkan, apa yang disampaikan publik di medsos mengenai jajaran direksi Antam semua dari suku tertentu hingga tidak ada yang muslim merupakan riak atas kinerja BUMN. Publik disebutnya saat ini sudah cerdas dalam mensikapi suatu permasalahan.

Misalnya, melihat perombakan jajaran direksi dengan memasukkan calon anggota legislatif gagal dan mantan direksi sebelumnya. Publik yang sudah lama mencermati dibuat jengah ditengah kondisi pandemi yang tak berkesudahan.

"Publik itu sudah sangat cerdas mengulik seseorang, mereka mengulik orang yang dijadikan direksi Antam. Oh ternyata ada dua orang, yang satu pernah jadi direksi dan dianggap gagal, yang satu itu ternyata caleg gagal. Sebagai background itu boleh saja," ucap Tamil.

Alih-alih bisa mendapatkan penjelasan siapa saja jajaran direksi Antam, terutama track record, lanjutnya, publik justru dikagetkan dengan informasi yang didapatkan demikian. Meski sekali lagi bernada SARA.

"Artinya apa, pertama BUMN kita itu tidak pernah beres karena dijadikan sebagai alat barter politik. Alat barter politik siapa? Semua paham siapa yang memimpin BUMN saat ini?" tuturnya.

Barter politik dimaksud tidak untuk kepentingan jangka pendek. Mereka yang dipilih menduduki direksi atau komisaris tidak langsung memberikan sesuatu, namun nantinya ada politik balas budi. Tamil menyebut bagaimana nantinya orang tertentu yang mempunyai hajar di Pilpres 2021 secara langsung akan dibantu `jalannya`.

"Dari kasus sebelumnya, Dirut (Antam) terkena kasus korupsi, itu kan sangat jelas. Disini KPK dan BPK harus berani membuat terbosan, lakukan pembuktian terbalik 10 tahun ke belakang," ucapnya.

Mereka yang pernah menjabat sebagai direksi di Antam diperiksa dari mana sumber-sumber kekayaannya. Khususnya bagi seluruh direksi dalam 10 tahun ke belakang. Bisa jadi, Tamil Selvan menyakini akan ditemukan skandal yang lebih besar jika dilakukan pembuktian terbalik.

Sebelumnya, dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR dengan Direktur Utama PT Antam, Kamis 2 Desember 2021, Anggota Komisi VI DPR RI Hendrik Lewerissa membayangkan Antam bisa memberikan kontribusi besar bagi negara. Namun besarnya harapan yang ditujukan Antam tidak berbanding lurus dengan kenyataan yang ada.

Anggota Fraksi Gerindra itu mengungkapkan, hingga saat ini dirinya tidak mengetahui apa yang menjadi kendala fundamental Antam sehingga tidak maksimal dalam memberikan kontribusi bagi Negara. Padahal tingkat produksi dan penjualan emas, feronikel, bauksit hingga nikel mengalami peningkatan signifikan tahun 2021 dibandingkan tahun 2020. Nyatanya, diujung-ujung dinyatakan kontribusinya hanya kecil.

Ia lantas mempertanyakan data produksi dan penjualan emas, feronikel, bauksit hingga nikel tahun 2018 dan 2019. Komisi VI hanya mendapatkan pemaparan produksi dan penjualan sepanjang tahun 2021 dan membandingkannya dengan tahun 2020.

"Secara statistik jelas antara produksi dan penjualan, peningkatannya signifikan sekali (2021). Tapi tahun 2018, 2019 itu kan cukup lumayan produksi dan penjualannya. Itu saya tidak dapat data perbandingan disini," ucap Hendrik.

Senada, Sondang Tiar Debora Tampubolon dari Fraksi PDI Perjuangan menyatakan jika saat ini PT Antam saat ini sebenarnya sedang dalam posisi diuntungkan. Hal itu sejalan dengan naiknya beberapa komoditas yang menjadi primadona. Nikel misalnya, saat ini banyak Negara yang sedang mencari-cari komoditas nikel yang terkandung di Indonesia Timur.

"Kita berharap Antam jangan sampai kehilangan momentum ini, (sebab) kalau kehilangan momentum akan sama nasibnya seperti komoditi lainnya yang kita unggul dulu," sebutnya.

Selain soal kinerja Antam, Sodang Tampublon juga mempertanyakan progress pembangunan smelter nikel yang tidak berjalan maksimal dengan alasan pasokan listrik. Semestinya, sejak perencanaan Antam sudah memperhitungkan berbagai resikonya sehingga ketika dihadapkan pada persoalan ditengah jalan ada solusi lain. Hal yang disebutnya konyol.

"Saya rasa, ini mohon maaf, ini sangat konyol sekali," kata dia.

Saat itu, Dirut Antam Dana Amin menyampaikan, hingga triwulan ketiga di tahun 2021 Antam mencatatkan laba yang tinggi. Antam membukukan laba sebesar Rp 1,71 triliun atau melonjak sebesar 104,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 2020 yaitu sebesar Rp 835,78 Miliar. Besaran laba itu sejalan dengan meroketnya penjualan emas pada periode sembilan bulan terakhir.

"Antam mencatat penjualan Rp 26,47 triliun, nilainya meningkat 46,79 persen dibandingkan kinerja penjualan pada periode yang sama tahun 2020 sebesar Rp 18,03 triliun," kata Dana Amin dalam laporan sebagaimana disampaikan Wakil Ketua Komisi VI Gde Sumarjaya Linggih.

Diungkapkan pula bahwa komoditas emas menjadi penunjang utama bisnis Antam. Tercatat penjualan produk emas mencapai Rp 17,67 triliun hingga September 2021. Nilai tersebut meningkat jauh dibandingkan 12,98 triliun pada september 2020. Meski total penjualan meningkat, namun beban pokok penjualan juga mengalami peningkatan sehingga menggerus profit perusahaan.

"Jumlah beban usaha meningkat pada sembilan bulan pertama 2021. Beban pokok penjualan Rp 21,33 triliun atau meningkat 41,02 persen dari 15,13 triliun. Sementara beban usaha yang ditanggung antam naik 90,51 persen dari Rp 1,46 triliun," ucapnya.

Secara umum, lanjut Dana Amin, kinerja perusahaan Antam yang baik berdampak pada harga saham di pasar modal. Pada awal tahun diakui sempat diterpa isu negatif sehingga harga saham Antam kurang baik di awal tahun, namun berangsur-angsur membaik pada pertengahan hingga akhir tahun 2021.

TAGS : BUMN Antam SARA Basar Simanjuntak Dolok Robert Silaban Tambang




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :