Minggu, 17/10/2021 03:58 WIB

Ketua MPR Harap Tiongkok Dukung Indonesia Menjadi Pusat Produksi Vaksin di Kawasan Regional

Bamsoet menuturkan, sejak awal pandemi Covid-19, Indonesia dan Tiongkok telah bekerjasama dalam pengadaan vaksin Covid-19. Indonesia telah menandatangani kerjasama dengan Tiongkok untuk penyediaan vaksin Sinovac.

Ketua MPR, Bambang Soesatyo. (Foto: MPR)

Jakarta, Jurnas.com - Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengapresiasi dukungan dan komitmen Pemerintah Tiongkok dalam membantu penanggulangan pandemi Covid-19 di Indonesia. Bantuan yang telah diberikan pemerintah Tiongkok kepada pemerintah Indonesia antara lain bantuan alat-alat kesehatan, obat-obatan dan vaksin Covid-19.

"Pandemi Covid-19 yang berdampak sangat dalam pada sektor kesehatan, menjadi disrupsi laju pembangunan, dan menghambat pertumbuhan perekonomian di hampir seluruh negara di dunia. Saya merasa bahagia bahwa dalam situasi pandemi Covid-19 ini, Pemerintah Tiongkok peduli dengan memberikan berbagai bantuan medis bagi masyarakat Indonesia," ujar Bamsoet dalam pertemuan bilateral dengan Ketua Dewan Nasional Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok Mr. Wang Yang secara virtual dari Ruang Kerja Ketua MPR RI, di Jakarta, Senin (27/9/21).

Bamsoet menuturkan, sejak awal pandemi Covid-19, Indonesia dan Tiongkok telah bekerjasama dalam pengadaan vaksin Covid-19. Indonesia telah menandatangani kerjasama dengan Tiongkok untuk penyediaan vaksin Sinovac. Selain itu, Indonesia juga bekerjasama dengan Tiongkok untuk pengadaan vaksin Sinopharm. 

"Presiden Tiongkok Xi Jinping mendukung penuh suplai vaksin Covid-19 untuk Indonesia. Hingga kini sudah lebih dari 215 juta dosis vaksin Covid-19 dari China yang masuk ke Indonesia. Jumlah tersebut mencapai 20 persen dari total ekspor vaksin China ke seluruh dunia," kata Bamsoet.

Bamsoet menambahkan, minggu lalu Indonesia kembali menerima bantuan satu juta vaksin Sinovac dari pemerintah Tiongkok dan satu juta dari perusahaan Sinovac yang diberikan secara gratis. Beberapa hari sebelumnya, Indonesia juga menerima sumbangan 200 ribu dosis vaksin jadi Sinovac dari Red Cross Society China. 

"Pada bulan Agustus 2021, pemerintah Tiongkok telah memberikan donasi alat kesehatan berupa 120 ventilators, 400 oxygen concentrators, 12.000 oxygen nasal cannulas, dan 12.000 oxygen face mask. Total bantuan tersebut senilai 7,8 juta US dolar atau sekitar Rp 113,42 miliar," jelas Bamsoet.

Bamsoet berharap pemerintah Tiongkok dapat merealisasikan dukungan bagi Indonesia untuk menjadi pusat (hub) bagi produksi vaksin di kawasan regional. Termasuk kerja sama transfer teknologi, penguatan ekosistem vaksin, mulai dari riset dan pengembangan, hingga manufaktur vaksin untuk berbagai platform vaksin.

"Indonesia telah siap menjadi pusat produksi vaksin Covid-19 di kawasan regional. Posisi geografis Indonesia yang strategis sangat tepat untuk menjadi eksportir vaksin ke seluruh dunia. Kita harapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memilih Indonesia sebagai salah satu pusat produksi vaksin global," pungkas Bamsoet.

Percepatan Penyelesaian Proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung

Bamsoet bersama Ketua Dewan Nasional Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat China, Mr. Wang Yang, mendukung penyelesaian proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung (KCJB) yang membentang sepanjang 142,3 kilometer, dapat selesai dan beroperasi pada tahun 2022. Proyek ini masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun 2016.

"Menurut informasi PT Kereta Cepat Indonesia China, progres proyek KCJB hingga minggu ini sudah mencapai lebih dari 78,65 persen. Beberapa hari lalu, sebanyak 11.805 batang rel KCJB yang didatangkan dari China telah sampai di Indonesia. Dengan terpenuhinya seluruh kebutuhan batang rel untuk trase KCJB, maka percepatan penyelesaian proyek KCJB sudah semakin dekat," ujar Bamsoet.

Bamsoet menjelaskan, proyek KCJB yang menelan investasi mencapai USD 8 miliar atau sekitar Rp 114,24 triliun ini menjadi salah satu pilot project investasi terbesar di sektor infrastruktur transportasi antara Indonesia dan Tiongkok.

Sekaligus menjadi penanda semakin kuatnya hubungan ekonomi kedua negara dengan dasar saling menguntungkan dan menguatkan. Karenanya terhadap persoalan apapun, harus diselesaikan secara dialog kekeluargaan.

"Selain sektor infrastruktur, Indonesia juga terbuka dengan berbagai kerjasama di bidang lainnya. Antara lain, industri kesehatan, farmasi dan alat kesehatan, Industri otomasi dan elektronik, serta energi, terutama yang baru dan terbarukan," jelas Bamsoet.

Bamsoet turut mengapresiasi peningkatan nilai perdagangan kedua negara yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kerjasama perdagangan dan investasi merupakan motor penting bagi pemulihan ekonomi nasional.

Peningkatan signifikan nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok tahun 2020, telah memangkas nilai defisit perdagangan kedua negara mencapai 53,69 persen atau sebesar 9,11 miliar US dolar, dibandingkan dengan profil neraca perdagangan tahun 2019.

"Saya juga menyambut baik diberlakukannya Local Currency Settlement untuk mata uang Rupiah dan RMB (Renminbi), yang telah disepakati oleh pihak Bank Indonesia dan People’s Bank of China pada 6 September 2021. Kesepakatan ini penting untuk mendorong perdagangan dan investasi kedua negara dengan kemudahan penyelesaian transaksi mata uang lokal," jelas Bamsoet.

Bamsoet menjelaskan, untuk semester I (Januari-Juni) 2021, nilai investasi Tiongkok di Indonesia menempati peringkat ke-3 setelah Singapura, yaitu 1,68 miliar US dollar (di luar Hong Kong), yang terdiri dari 1.245 proyek. Sementara pada 2020, nilainya sebesar 4,84 miliar US dollar yang terdiri dari 3.027 proyek (peringkat ke-2 setelah Singapura).

"Kita juga menekankan perlunya dukungan Tiongkok terkait penyelesaian berbagai hambatan perdagangan, khususnya untuk menekan defisit perdagangan dan meningkatkan ekspor komoditi unggulan Indonesia dari sektor peternakan, pertanian dan perikanan ke Tiongkok. Antara lain pelarangan ekspor porang sejak 1 Juni 2020, ekspor buah tropis masih dibatasi 5 jenis, seperti salak, manggis, buah naga, pisang, longan, dan buah nanas yang hingga saat ini masih dalam proses. Hingga berbagai permasalahan terkait ekspor sarang burung walet," pungkas Bamsoet.

TAGS : Kinerja MPR Bambang Soesatyo Tiongkok Vaksin Produksi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :