Minggu, 17/10/2021 04:00 WIB

KKP Dorong Masyarakat Pembudidaya Ikan Menggunakan Teknologi Bioflok

Keunggulan yang ditawarkan oleh sistem bioflok ini, mampu menampung padat tebar yang tinggi, efisien dalam penggunaan pakan dan air, serta dapat memaksimalkan penggunaan lahan.

Ilustrasi budidaya ikan lele. (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong pemanfaatan teknologi budidaya ikan sistem bioflok, untuk dapat diaplikasikan lebih luas, sehingga meningkatkan produksi dan pendapatan pembudidaya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Tb Haeru Rahayu, yang akrab disapa Tebe menjelaskan, bahwa sebagai salah satu program prioritas bantuan pemerintah dalam bentuk sarana dan prasarana budidaya ikan sistem bioflok, banyak menarik minat pembudidaya.

Hal ini, karena menjanjikan peningkatan pendapatan hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan sistem konvensional. Disamping itu, karena keunggulan yang ditawarkan oleh sistem bioflok ini, mampu menampung padat tebar yang tinggi, efisien dalam penggunaan pakan dan air, serta dapat memaksimalkan penggunaan lahan.

“Keunggulan lain jika dibandingkan dengan sistem budidaya konvensional, teknologi bioflok dianggap lebih ramah lingkungan karena hemat dalam hal penggunaan air. Air bekas budidaya juga tidak berbau, sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitar dan dapat disinergikan dengan budidaya tanaman misalnya sayuran dan buah-buahan,” ungkap Tebe.

Selain itu, Tebe juga menilai bahwa komoditas yang ditawarkan dalam program bantuan ini,  ikan lele dan nila merupakan komoditas favorit masyarakat, jadi relatif lebih mudah dalam pemasaran, karena permintaan pasar yang tinggi.

“Keberhasilan teknologi inovasi ini tentunya memerlukan kedisiplinan yang tinggi dalam pelaksanaannya, sehingga pendampingan yang berkesinambungan akan tetap dilakukan oleh tim teknis kami maupun melalui penyuluh dan dinas setempat. Harapannya program ini dapat berjalan secara berkelanjutan untuk menyejahterakan pembudidaya sekaligus menjadi jawaban akan kebutuhan pangan berprotein tinggi di masyarakat,” lanjut Tebe.

Sebagai gambaran, untuk pemeliharaan 30 ribu benih ikan lele, pada 10 bak kolam bulat berdiameter 3 meter, membutuhkan biaya produksi untuk benih, pakan, listrik dan probiotik sebesar Rp40,6 juta per siklus atau 3 bulan.

Investasi awal untuk kolam bulat, instalasi air dan aerasi serta peralatan budidaya dan juga biaya tetap per siklus untuk instalasi listrik dan upah tenaga kerja 1 orang membutuhkan biaya sebesar Rp. 40 juta.

Dengan perhitungan sintasan 90% dan bobot panen size 8 ekor per kilo setelah 3 bulan pemeliharaan, akan didapatkan 3.375 kg. Hasil yang didapatkan dengan asumsi harga jual Rp15 ribu per kilo adalah Rp50,6 juta per siklus selama 3 bulan pemeliharaan

TAGS : KKP Budidaya Ikan Bioflok Tebe




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :