Sabtu, 16/10/2021 16:25 WIB

BUMN Bisa Jadi Pemain Baterai Dunia Asal Pemerintah Beri Diskon Royalti

Presiden Jokowi dan Menteri BUMN Erick Thohir punya rencana bagus dan layak untuk didukung. Roadmap Kementerian BUMN semakin jelas dalam usaha pertambangan dan industri ini,” kata dia dalam perbincangan di Jakarta.

Pengamat BUMN, Kiki Rizki Yoctavian. (Foto: Dok. Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Langkah Menteri BUMN, Erick Thohir membentuk perusahaan Holding baterai bernama Indonesia Battery Corporation (IBC) atau PT Industri Baterai Indonesia yang baru dilakukan Groundbreaking oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) patut diacungi jempol.

Menurut pengamat BUMN, Kiki Rizki Yoctavian, langkah tersebut sangat baik di tengah perpindahan energi berbasis fosil ke energi terbarukan. 

"Presiden Jokowi dan Menteri BUMN Erick Thohir punya rencana bagus dan layak untuk didukung. Roadmap Kementerian BUMN semakin jelas dalam usaha pertambangan dan industri ini,” kata dia dalam perbincangan di Jakarta, Kamis (16/9). 

Kendati begitu, Kiki mengingatkan bahwa rencana tersebut memerlukan kebijakan dan insentif dari pemerintah. Seperti kemudahan dalam perizinan, diskon royalti dan Penetapan batas atas tarif tenaga listrik. 

"Diskon royalti untuk bijih nikel limonit untuk bahan baku EV Battery saat ini masih belum disetujui Kementerian ESDM. Ini perlu menjadi perhatian yang serius karena bijih nikel kadar rendah di bawah 1,5 persen ini yang digunakan sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik (EV) atau Energy Storage System (ESS). Dengan adanya diskon ini tentunya akan membangkitkan gairah pelaku usaha baik itu BUMN maupun swasta,” jelas Komisaris PT. Semen Baturaja (Persero) Tbk periode 2015-2020 ini.

Kiki menambahkan, Presiden Jokowi juga sudah mengatakan akan berkomitmen penuh untuk memberikan dukungan dan pengembangan terhadap ekosistem industri baterai dan kendaraan listrik. BUMN yang terlibat dalam IBC tentunya sangat memerlukan diskon royalti dan intensif. 

“Bisnis tentunya harus memiliki kepastian terkait kebijakan dan peraturan dari pemerintah. Jangan sampai investasi yang besar gagal karena sinergi yang kurang antara kebijakan dan pelaku usaha. Sebaiknya Kementerian ESDM melalui Dirjen Minerba untuk segera melakukan kajian dan memberikan kepastian terkait hal itu,” demikian Presnas Pena 98 ini.

Sebagai informasi, IBC beranggotakan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Pertamina (Persero), dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). IBC juga bermitra dengan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dari China. Sementara itu, konsorsium LG terdiri dari  LG Energy Solution, LG Chem, LG International, POSCO, dan Huayou Holding.

Setelah pembangunan tahap pertama di Karawang ini, pembangunan pabrik baterai akan dilanjutkan ke Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang yang ada di Jawa Tengah.

TAGS : BUMN Erick Thohir IBC EV Battery Nikel Kiki Rizki Yoctavian Industri Baterai Indonesia




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :