Jum'at, 28/05/2021 19:07 WIB
Moskow, Jurnas.com - Rusia menilai keputusan Amerika Serikat (AS) tidak bergabung kembali dengan pakta kendali senjata Open Skies, sebagai sebuah kesalahan politik jelang pertemuan puncak kedua pemimpin negara.
Sebagaimana diketahui, AS memutuskan tidak akan bergabung kembali dengan pakta Open Skies yang ditinggalkan Washington pada November tahun lalu, dan menuduh Rusia telah melanggar pakta tersebut.
Keputusan awal untuk keluar dari pakta diambil oleh pemerintah AS saat itu, kala di bawah kepemimpinan Donald Trump. Joe Biden diharapkan bakal membalikkan keputusan itu.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov, dikutip dari kantor berita RIA pada Jumat (28/5), mengatakan bahwa Moskow kecewa tetapi tidak sepenuhnya terkejut dengan keputusan Biden.
Kemenlu Palestina Desak Gencatan Senjata Secara Menyeluruh
Trump: Satu-satunya yang Memutuskan Gencatan Senjata Adalah Saya
10 Poin Tuntutan Iran ke Amerika Serikat untuk Akhiri Konflik
"Ini tentu saja tidak membuat kami bahagia, mengecewakan karena AS telah melewatkan kesempatan lain untuk memberikan kontribusi positif pada tugas memperkuat keamanan di Eropa," tulis RIA mengutip ucapan Ryabkov.
Presiden Rusia Vladimir Putin dan AS Presiden Joe Biden akan mengadakan pertemuan puncak di Jenewa bulan depan, dan menurut Ryabkov penolakan AS kembali bergabung dengan Open Skies menciptakan suasana yang tidak kondusif untuk diskusi pengendalian senjata di KTT.
"AS telah membuat kesalahan politik lain, menimbulkan pukulan baru pada sistem keamanan Eropa," kata Ryabkov seperti dikutip TASS.
"Kami memberi mereka kesempatan bagus, yang tidak mereka ambil. Mereka terus menyebarkan pemalsuan tentang pelanggaran Rusia terhadap perjanjian ini, yang sama sekali tidak masuk akal," sambung dia.
Pemerintah Rusia, yang pada Januari mengumumkan rencananya sendiri untuk meninggalkan pakta, pada 11 Mei mengajukan undang-undang ke parlemen untuk meresmikan pengunduran diri Moskow.
Saat itu, juru bicara Kremlin mengatakan salah satu alasannya adalah Amerika Serikat masih dapat menerima informasi yang diperoleh melalui perjanjian dari sekutu NATO-nya.
Perjanjian tersebut, yang ditandatangani pada tahun 1992 dan mulai berlaku pada tahun 2002, mengizinkan negara-negara untuk melakukan penerbangan pengintaian tak bersenjata dengan pemberitahuan singkat di seluruh wilayah pihak lain.
Tujuan dari perjanjian tersebut, yang memungkinkan negara-negara untuk mengumpulkan informasi tentang kekuatan militer satu sama lain, adalah untuk meningkatkan transparansi dan membangun kepercayaan di antara negara-negara.
Keyword : Rusia Amerika Serikat Pakta Open Skies