Gus Jazil: Empat Pilar Merupakan Gagasan Para Pahlawan

Rabu, 11/11/2020 03:05 WIB

Manado, Jurnas.com - Kehadiran Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid di Kampung Tuminting, Kota Manado, Sulawesi Utara (10/11/2020) disambut antusias oleh masyarakat. Masyarakat yang terdiri dari mahasiswa, pemuda, ormas keagamaan, serta kelompok yang lainnya berada di kampung yang tak jauh dari tepi pantai itu untuk mengikuti Sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika atau yang lebih popular Empat Pilar MPR.

Sosialisasi yang digelar pada hari ini, menurut pria asal Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, itu bertepatan dengan Peringatan Hari Pahlawan 10 November. Dikatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya.

Diakui banyak pahlawan yang berasal dari Sulawesi Utara. Disebut seperti Sam Ratulangi dan AA Maramis. “AA Maramis merupakan sosok yang ikut merumuskan dasar negara”, tuturnya. Ditegaskan kembali kita harus menghargai jasa para pahlawan sebab mereka yang memerdekakan bangsa ini. “Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, juga merupakan gagasan para pahlawan”, paparnya.

Diuraikan, Pancasila merupakan nilai-nilai luhur yang perlu diimplementasikan dalam kehidupan keseharian oleh seluruh komponen yang ada. Nilai-nilai yang ada pada dasar negara tidak ada yang bertentangan dengan norma-norma yang hidup di masyarakat. “Pancasila sesuai dengan prinsip kehidupan berbangsa dan bernegara”, ujarnya.

Untuk itulah dalam segala sendi kehidupan nilai-nilai ini harus ada. “Pembangunan harus mengandung nilai-nilai Pancasila”, paparnya. “Bila pembangunan tanpa mengandung nilai-nilai Pancasila maka pembangunan itu tidak menjadi berkah”, tegasnya.

Disampaikan kepada mereka bahwa tanggal 9 Desember 2020, digelar Pilkada serentak. Pilkada serentak juga digelar di Manado dan Provinsi Sulawesi Utara, serta kabupaten lain di provinsi yang berbatasan dengan Filiphina itu. Diungkapkan Pilkada merupakan salah satu wujud dari implementasi Sila IV Pancasila. “Pemilu, Pilkada, merupakan salah satu bentuk kedaulatan rakyat”, ucapnya.

Dalam hajatan ini masyarakat, pemilih, memiliki suara. Untuk itu saat Pilkada ditegaskan agar masyarakat menggunakan haknya secara hikmah dan bijaksana. “Jangan sebaliknya suara ditukar dengan uang atau sembako”, tegasnya.

Kepada para peserta sosialisasi, Jazilul Fawaid mengatakan Indonesia adalah negeri yang kaya raya. Negeri ini disebut zamrut khatulistiwa. “Sepotong surga yang diturunkan ke bumi”, ucapnya. Kekayaan yang ada ini ditegaskan harus mampu dikelola secara maksimal agar memberi kesejahteraan pada masyarakat.

Kekayaan yang ada harus disyukuri. “Disyukuri dengan mengelola yang benar dan untuk kemakmuran rakyat”, tambahnya. Hal demikian penting sebab jangan sampai Indonesia kaya namun masih banyak orang miskin dan tidak sejahtera. “Jangan seperti ayam mati di lumbung padi”, ujarnya.

Pada kesempatan itu, Jazilul Fawaid mengajak kepada semua untuk bangga menjadi bangsa Indonesia. Ini penting menjadi sikap sebab nilai-nilai yang demikian saat ini mulai ada yang luntur atau menipis di tengah masyarakat. Dari sinilah MPR melakukan sosialisasi agar nilai-nilai yang ada bisa semakin kuat.

Dalam kesempatan lain, Jazilul Fawaid hadir di Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), Kota Tomohon, Sulawesi Utara (10/11/2020) disambut dengan hangat oleh civitas akademika di sana. Rektor UKIT Pendeta Dr. Arthur Rumengan, para pembantu rektor, pihak yayasan, ketua senat, pengurus BEM, serta para pendeta, menjabat tangan Jazilul Fawaid sejak dirinya menginjak di kampus itu.

Kunjungan kerja yang dilakukan Jazilul Fawaid ke daerah yang hawanya sejuk itu untuk bersilaturahmi dan menjaring aspirasi civitas akademika dari salah satu kampus tertua di Sulawesi Utara itu.

Sosialisasi dikatakan oleh pria yang akrab disebut Gus Jazil itu penting sebab saat ini masih ada kelompok yang mempertanyakan dan ingin mengganti dasar-dasar negara. “Hal demikian bisa menjadi bibit-bibit perpecahan”, ungkapnya.

Bangsa Indonesia menurut Gus Jazil mengedepankan sikap gotong royong. “Kita mengedepankan dialog bukan budaya konflik”, tuturnya. Dirinya khawatir sebab saat ini ada kecenderungan sebagaian masyarakat yang lebih memilih budaya konflik. “Padahal dasar kita adalah permusyawaratan”, ucapnya. Semua permasalahan yang ada dikatakan diselesaikan dengan cara ini.

Kepada civitas akademika UKIT, Gus Jazil mengatakan kunci keberhasilan dan kemajuan suatu bangsa adalah pendidikan. Pendidikan adalah investasi masa depan. Dirinya menyayangkan dunia pendidikan yang ada di Indonesia kurang diperhatikan, terbukti saat pandemik Covid-19, bangsa ini tidak siap dengan pendidikan model daring. “Pendidikan seperti itu harus dievaluasi”, ucapnya.

Perlunya melakukan evaluasi terhadap pendidikan secara menyeluruh sebab dalam rangking perguruan tinggi di dunia, perguruan tinggi dari Indonesia berada pada posisi di atas nomer 500 ke atas.

Dalam masa pandemik, disebut selain masalah kesehatan dan ekonomi yang diperhatikan, dunia pendidikan juga perlu perlakuan yang sama. “Apa jadinya kalau ekonominya kuat dan masyarakatnya sehat namun tidak cerdas”, ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut dirinya mengajak kepada mahasiswa yang hadir untuk terus semangat belajar. “Pandemik membuat hubungan antara mahasiswa dan dosen menjadi berkurang”, paparnya. “Kita jadikan suasana yang ada untuk bangkit”, tegasnya.

Keinginan UKIT untuk mendirikan fakultas kedokteran didukung oleh Jazilul Fawaid. Pendidikan kedokteran diakui sangat penting sebab ketika pandemic terjadi, bangsa ini terbukti kekurangan tenaga medis. “Jumlah tenaga dokter dan masyarakat juga masih belum imbang”, ungkapnya.

Ia menyayangkan sikap pemerintah yang melakukan moratorium pembukaan fakultas kedokteran. “Saya akan ikut mengawal dari keinginan UKIT mendirikan fakultas kedokteran”, ujarnya.

TERKINI
Hari Konsumen Nasional Diperingati 20 April, Ini Sejarah hingga Tujuannya 20 April 2026: Cek Daftar Peringatan Hari Ini Liam Delap: Chelsea Tak Pantas Kalah dari Manchester United Caicedo: Chesea Belum Menyerah Kejar Tiket Liga Champions