Rabu, 26/06/2019 22:10 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Pemerintah Palestina menyebut konferensi ekonomi yang dihelat di Manama, Bahrain yang konon akan membangkitkan perekonomian Palestina justru akan semakin menyulitkan dan membuat rakyat Palestin lebih sedih.
Demikian disampaikan Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Zuhair Al Shun disampaikan pada konferensi pers "Situasi Timur Tengah dan Palestina" di Keduataan Besar Palestina untuk Republik Indonesia, di Jakarta, Rabu (26/6).
"Konferensi yang ada di Manama, merupakan konferensi yang nantinya akan menghasilkan poin-poin rekomendasi yang akan menyulitkan dan membuat rakyat Palestin lebih sedih Karena konferensi tersebut tidak dimulai dengan niat yang tulus," katanya.
Sebaliknya kata Zuhair, Konferensi Manama tersebut justru sarat akan kepentingan dari beberapa pengusaha real estate yang ada di Amerika Serikat (AS).
Hizbullah Beri Lima Syarat Gencatan Senjata dengan Israel
Hizbullah: Gencatan Senjata Tidak Bisa Sepihak, Janji Balas Serangan Israel
Warga Palestina Tewas Ditembak Israel di Dekat Hebron
"Jadi, saya ingin memberikan keterangan lebih lanjut bahwasanya proyek AS yang di mulai dari konferensi Manama ini akan mengambil hak kewarganegaraan bagi masyarakat Palestina. Proyek ini juga akan mempersulit kewarganegaraan orang-orang Palestina ke depan," jelasnya.
Dalam Konferensi yang sedang berlangsung di Manama, fokus yang dibahas Washington adalah aspek ekonomi dari "Kesepakatan Abad Ini," yang disebut bertujuan menghidupkan perekonomian masyarakat Palestina lewat rangkaian proyek pembangunan.
Zuhair mengecam narasi tersebut. Ia mengatakan jika memang AS berniat membantu, mengapa tidak langsung datang ke Palestina dan memberikan bantuannya tanpa membuang-buang tenaga mengelar Konferensi Manama.
"Ini menujukkan bahwasanya usaha yang di lakukan AS dan Israel sudah sangat jelas untuk memberikan tipu daya di daerah palestina. Israel lah yang akan memasarkan proyek-proyek ini kepada tetangga-tetangga Arab mereka dan juga tetangga lainnya yang ada di dunia ini," tegas Zuhair.