Kamis, 04/06/2026 12:02 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Melemahnya nilai tukar rupiah hingga menyentuh angka psikologis baru Rp18.030 per dolar AS pada Kamis (4/6) menghentak ruang publik. Situasi ini memicu kekhawatiran di tengah konflik Timur Tengah yang memicu kelangkaan energi.
Namun, dengan posisi baru rupiah hari ini, seberapa buruk apabila dibandingkan dengan dengan nilai tukar negara-negara tetangga di Asia Tenggara terhadap dolar? Apakah benar Indonesia menjadi yang paling buncit di ASEAN
Jika bicara nilai tukar mata uang asing, semakin besar nominal untuk membeli satu lembar dolar AS, maka secara nilai nominal, mata uang negara tersebut justru semakin lemah. Sebaliknya, semakin kecil angka nominalnya, semakin kokoh daya belinya di pasar global.
Oleh karena itu, mari kita intip peta kekuatan mata uang 11 negara ASEAN yang diurutkan dari yang nilai mata uangnya tertinggi (paling kuat) hingga yang terendah (paling lemah):
Dolar Tembus Rp18.000, Kaum Menengah ke Bawah Siap-Siap Hadapi Ini!
Pagi Ini, Rupiah Menguat ke Level Rp16.763 per Dolar
Sore Ini, Rupiah Menguat 110 Poin jadi Rp16.251 per Dolar
Dari klasemen di atas, kawasan Asia Tenggara secara unik terbagi menjadi tiga zona kekuatan nominal mata uang yang sangat kontras. Di zona papan atas, Timor Leste menerapkan kebijakan dollarisasi resmi sejak tahun 2000. Karena itu, nilai tukarnya stabil tanpa risiko fluktuasi kurs luar negeri.
Tepat di bawahnya, Singapura dan Brunei Darussalam bertengger mesra di peringkat kedua. Kedua negara makmur ini mengikatkan diri dalam perjanjian moneter khusus (Currency Interchangeability Agreement), yang membuat Dolar Singapura dan Dolar Brunei memiliki nilai tukar yang dipatok 1:1 dan bisa dibelanjakan secara bebas di wilayah satu sama lain. Melengkapi grup papan atas, Ringgit Malaysia mengunci peringkat keempat.
Di zona papan tengah, Baht Thailand memimpin dengan gagah, disusul oleh Peso Filipina. Mata uang di zona ini tergolong sangat stabil karena berhasil menahan diri dari inflasi berat selama bertahun-tahun, sehingga nominal angkanya tidak terperosok ke dalam barisan ribuan.
Lalu di zona papan bawah diawali oleh Kyat Myanmar dan Riel Kamboja. Dengan kejatuhan nilai tukar ke level Rp18.030 per dolar AS, Rupiah Indonesia kini berada di peringkat ke-9 dari 11 negara ASEAN. Posisi ini menempatkan Indonesia di kelompok tiga terbawah di kawasan regional.
Untungnya, Indonesia tidak berada di posisi paling buncit. Di bawah posisi Rupiah, masih ada Kip Laos di peringkat ke-10, serta Dong Vietnam yang harus rela menjadi juru kunci klasemen.
Namun, yang tetap harus menjadi catatan ialah peringkat nominal mata uang tidak serta-merta mencerminkan total kekayaan ekonomi suatu negara. Fakta bahwa Dong Vietnam berada di peringkat paling bawah atau Rupiah berada di peringkat ke-9 tidak berarti perekonomian Vietnam dan Indonesia lebih hancur daripada Myanmar atau Kamboja yang berada di papan tengah.
Secara PDB dan skala ekonomi riil, Indonesia dan Vietnam justru termasuk raksasa ekonomi yang sangat diperhitungkan di ASEAN. Namun, berada di peringkat ke-9 di bawah bayang-bayang angka Rp18.030 tentu tetap menjadi alarm bagi otoritas moneter negeri, dan ada tantangan besar yang harus dihadapi oleh stabilitas daya beli masyarakat di pasar global.
Keyword : Kurs RupiahDolar 18 RibuKurs Dolar Asean