Kamis, 08/02/2018 06:15 WIB
Jakarta - Seorang agen Patroli Perbatasan Amerika Serikat yang membunuh November lalu, meninggal akibat akibat cedera pada bagian kepalanya. Demikian laporan otopsi, meski masih dipertanyakan.
Rogelio Martinez meninggal saat berpatroli di Sektor Big Bend di perbatasan Texas. Agen dan mitranya menanggapi aktivitas di dekat jalan bebas hambatan di area Van Horn Station saat mereka diserang. Mitra Martinez, Stephen Garland, selamat.
Kematian Martinez masih menyimpat teka-teki. Garland mengaku tidak ingat bagaimana mereka diserang. Tunas Martinez, Angie Ochoa, mengatakan bahwa ia yakin laporan otopsi ditutup-tutupi.
"Saya telah menahan diri, tapi saya akan mengatakannya, saya tidak merasa mereka menyelidiki agen lain seperti mereka telah menyelidiki saya," kata Ochoa kepada KTSM-TV.
Konsumsi Garam Berlebih Diduga Percepat Penurunan Daya Ingat pada Pria
Meski IHSG Menguat, Lima Saham Ini Terkoreksi
Lima Saham Topang Penguatan Bursa Pekan ini
Laporan otopsi juga menemukan jejak Butumbital sedatif dalam darahnya, obat yang biasa diresepkan untuk rasa sakit dan sakit kepala.
"Ketika FBI menanyai saya tentang hal itu, saya menjelaskan kepada mereka bahwa Roger bahkan tidak akan mengambil Ibuprofen atau Aspirin, Anda tidak dapat membuatnya mengambil apapun," kata Ochoa.
Ochoa mengatakan bahwa FBI berfokus pada pengobatan di tubuh Martinez daripada menemukan orang yang membunuhnya.
"Saya hanya merasa FBI tidak melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan," katanya, menambahkan bahwa dia yakin FBI sedang menyelidiki orang yang salah.
Dikabarkan ia akan memberikan uang sebesar USD70.000 atau sekitar 720 juta bagi seseorang yang memberikan informasi pelaku penangkapan atau penyerangan.
Keyword : Amerika Serikat Rogelio Martinez