Senin, 01/01/2018 16:38 WIB
Jakarta - China akan membahas pelonggaran larangan impor makanan Jepang yang diberlakukan setelah bencana nuklir. Beijing mengusulkan pembicaraan dengan Tokyo untuk membahas pembatasan yang ditempatkan pada impor makanan setelah bencana nuklir Fukushima pada tahun 2011.
Pihak China menawarkan untuk membentuk sebuah kelompok kerja untuk membahas masalah tersebut sebagai tanggapan atas permintaan seorang anggota parlemen Jepang gun mengendurkan pembatasan impor.
Perkembangan tersebut mungkin merupakan pertanda bahwa pemerintah kedua negara sedang mencari cara untuk memperbaiki hubungan. Hal itu juga menandai tahun ke-40 peringatan penandatanganan perjanjian perdamaian dan persahabatan antara Jepang dan Republik Rakyat China.
Dilansir SCMP, Zhi Shuping, kepala sertifikasi China dan administrasi karantina, membuat proposal tersebut pada Jumat saat bertemu di Beijing dengan Toshihiro Nikai, sekretaris jenderal Partai Demokrat Liberal yang berkuasa di Jepang.
Tekanan China Paksa Presiden Taiwan Batalkan Kunjungan ke Eswatini
Australia-Jepang Teken Kesepakatan Kapal Perang Senilai Rp119 Triliun
Latihan Perang di Pasifik Barat, China Masuki Area Milik AS
Sebuah delegasi koalisi Jepang yang dipimpin oleh Nikai sebelumnya bertemu dengan Presiden Xi Jinping dan pejabat senior China lainnya.
Sementara kedua pihak belum memutuskan kapan harus membentuk kelompok kerja, namun tampaknya ada pergeseran yang jelas dalam sikap Beijing mengenai masalah ini.
Lebih dari 50 negara dan wilayah memberlakukan larangan impor untuk beberapa produk pertanian dan perikanan dari Jepang setelah bencana Fukushima. Sembilan negara dan wilayah termasuk China dan Korea Selatan masih memiliki batasan impor tersebut. Bahkan makanan yang dikirim ke China dari prefektur tidak dikenai pembatasan wajib datang dengan sertifikat asal.
Pemeriksaan radiasi juga diperlukan untuk beberapa produk dari luar 10 prefektur yang terkena dampak, yang sebagian besar berada di wilayah timur dan timur laut.