Jum'at, 04/07/2025 15:07 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Sepak bola profesional menuntut fisik dan mental yang luar biasa. Kedua hal ini dibutuhkan untuk tetap menjadi pilihan utama, atau setidaknya tak terlalu sering menghangatkan bangku cadangan.
Sayangnya, terdapat sejumlah risiko penyakit serius yang mengancam karier dan kualitas hidup pemain. Ketika tidak ditangani dengan baik, pensiun dini bisa menjadi ancamannya.
Meskipun pemain rutin melalui skrining medis, serangan jantung masih terjadi yang disebabkan kondisi seperti cardiomyopathy, hipertensi, atau teror dari jadwal padat.
Carlisle adalah contoh tragis mengerikannya serangan jantung saat bermain sepak bola. Pelatih Tottenham Hotspurs, Ugo Ehiogu, juga tewas akibat serangan jantung saat bertugas.
Jam Tidur Tak Teratur Bisa Lipatgandakan Risiko Serangan Jantung dan Stroke
Awas, Rutin Konsumsi Makanan Ultraproses Tingkatkan Risiko Serangan Jantung
9 Faktor Pemicu Serangan Jantung yang Sering Diabaikan
Cedera ACL (anterior cruciate ligament) sangat umum dialami, terutama di kalangan pemain wanita. Mereka berisiko hingga delapan kali lipat dibanding pria untuk cedera jenis ini, sehingga menyebabkan absensi panjang dan risiko osteoarthritis jangka panjang.
3. Gangguan Kesehatan MentalStudi menunjukkan banyak pemain mengalami stres ekstrem akibat tekanan performa, cedera, dan stigma ‘macho culture’, hingga kesulitan mengakses dukungan mental.
Stroke ringan berkali-kali dan benturan kepala bisa memicu Chronic Traumatic Encephalopathy (CTE), yakni penyakit neurodegeneratif yang menyebabkan gangguan memori, mood, dan risiko bunuh diri.
5. Sleep Disorders dan Kelelahan KronisGangguan tidur seperti sleep apnea sering ditemukan pada mantan atlet, memicu stress kardiovaskular dan pemulihan yang terganggu.
Meski sehat semasa berkarier, mereka yang berusia muda menunjukkan angka hipertensi dan diabetes lebih tinggi dibanding populasi umum, akibat pola makan meningkat dan perubahan metabolisme pascapensiun.
7. Osteoarthritis dan Cedera MuskuloskeletalCedera berulang pada lutut, pinggul, otot, dan sendi akhirnya menghasilkan nyeri kronis dan osteoarthritis pascapensiun, sehingga mengurangi mobilitas dan kualitas hidup jangka panjang.