Selasa, 08/09/2026 19:59 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius sepanjang September 2026. Kondisi kering yang dominan, pengaruh El Niño, meningkatnya titik panas atau hotspot, serta mulai munculnya sebaran asap membuat risiko kebakaran belum mereda.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Koordinasi antara Pemerintah dan Perusahaan Pemegang Hak Guna Usaha terkait penanggulangan dan penanganan puncak karhutla 2026 di Graha Marinir Panti Perwira, Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI, Jakarta, Senin (7/9/2026).
Rapat dipimpin Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago dan dihadiri sejumlah menteri serta pimpinan lembaga, gubernur, dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
BMKG mencatat sedikitnya tiga kondisi yang perlu mendapat perhatian. Selain cuaca kering yang masih dominan, potensi karhutla tetap tinggi terutama di Sumatera dan Kalimantan, sementara sebaran asap mulai terdeteksi di sejumlah wilayah.
Kebun Sawit Muncul Pascakarhutla, Prabowo Minta Identitas Korporasi Dilapor
Fenomena Langit September 2026, Ada Penampakan Venus hingga Harvest Moon
BMKG: Abu Anak Krakatau Capai 50.000 Kaki, Sebaran Meluas ke Enam Provinsi
“Karena itu, periode September ini masih menjadi fase kritis yang membutuhkan kesiapsiagaan bersama,” ujar Faisal dalam keterangan resmi.
Selain itu, BMKG memprediksi El Niño masih akan bertahan hingga awal tahun 2027. Dampaknya terlihat dari semakin panjangnya hari tanpa hujan di berbagai daerah. Hingga awal September, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada musim kemarau, sementara hujan yang terjadi umumnya bersifat lokal dan belum mampu memperbaiki kondisi kekeringan secara merata.
Berdasarkan analisis BMKG, lanjut Faisal, potensi pertumbuhan awan hujan pada periode 6–13 September masih relatif rendah di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera bagian selatan, serta sebagian Sulawesi dan Papua Selatan. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan peluang hujan alami untuk membantu pemadaman karhutla masih terbatas.
Lebih lanjut, Faisal menerangkan bahwa wilayah yang masih perlu mendapat perhatian utama meliputi Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Menurutnya, selain peningkatan hotspot, BMKG juga mendeteksi sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan yang berpotensi memengaruhi kualitas udara. Ia menjelaskan pemantauan konsentrasi partikulat halus (PM2.5) menunjukkan peningkatan pada beberapa lokasi yang terdampak aktivitas karhutla.
Selain itu, satelit Sentinel-5P juga mendeteksi peningkatan emisi karbon monoksida di Sumatera dan Kalimantan, bahkan terpantau hingga wilayah Sarawak, Malaysia.
“Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pengendalian sumber kebakaran harus dilakukan sedini mungkin,” tegasnya.
Adapun salah satu upaya yang dilakukan BMKG untuk mendukung penanganan karhutla melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BNPB, kementerian/lembaga, pemerintah daerah, BUMN, dan berbagai pihak terkait lainnya.
“OMC tidak hanya digunakan untuk mitigasi karhutla, tetapi juga mendukung pengelolaan sumber daya air dan ketahanan pangan nasional. Operasi dilaksanakan secara adaptif berdasarkan kondisi atmosfer dan kebutuhan masing-masing wilayah,” jelas Faisal.
BMKG akan terus memperkuat layanan informasi cuaca, iklim, kualitas udara, dan peringatan dini sebagai dasar pengambilan keputusan dalam upaya pencegahan serta penanganan karhutla.
“BMKG siap terus memberikan dukungan informasi, peringatan dini, dan layanan OMC berbasis kondisi atmosfer terkini. Kami berharap informasi ini dapat memperkuat koordinasi dan langkah mitigasi lintas kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat,” pungkasnya.