Kamis, 03/09/2026 21:27 WIB
Kudus, Jurnas.com - Proses pembelajaran tidak mesti dilakukan di ruang-ruang kelas. Sebaliknya, mendekatkan peserta didik dengan lingkungan alam sekitar justru menjadi pendekatan yang menarik untuk menjadikan proses transfer pengetahuan dan pembentukan karakter dengan cara yang menyenangkan.
Demikian disampaikan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu`ti saat meluncurkan Program STEM Nasional, di PAUD Terpadu Kalirejo, Kudus, Jawa Tengah pada Kamis (3/9).
Menteri Mu`ti mengatakan alam dan dunia petualangan sangat dibutuhkan anak-anak terutama mereka yang berada di usia dini. Sebab, hal ini bisa menjadi pemicu bagi anak untuk mengembangkan rasa ingin tahu, serta mendapatkan pengalaman nyata terkait penerapan teori-teori dalam pembelajaran.
"Nah problemnya sekarang ini, mohon maaf, kebanyakan pendidikan kita itu dihabiskan waktunya di ruangan. Dihabiskan waktunya disekat-sekat apakah itu bernama lab, apakah bernama ruang kelas. Yang mohon maaf, tanpa mengecilkan arti ruangan yang seperti itu, secara psikologis ruangan itu berpengaruh terhadap pikiran kita," kata Mendikdasmen.
Program STEM Masuk TK, Mendikdasmen: Tidak Harus Mahal
SE Mendikdasmen Lengkap tentang Pembelajaran selama Karhutla
Bahasa Indonesia Kian Dilirik, Terbanyak Dipelajari Warga Korsel
Tidak hanya memperoleh pembelajaran yang menyenangkan, pembelajaran di alam juga melatih siswa untuk mengembangkan imajinasi dan kemampuan berpikir inovatif. Dia mencontohkan Wright Bersaudara ketika pertama kali menemukan pesawat terbang, setelah terinspirasi dari burung.
"Dia (Wright Bersaudara) berpikir kok burung bisa terbang? Rahasianya apa? Dan kemudian dia rancang dengan berbagai macam teori. Tentu saja banyak teori fisika yang memang dipelajari. Tapi imajinasi awalnya di situ," ujar mendikdasmen.
Pendekatan yang menggabungkan antara teori dan pengalaman di alam guna menghasilkan pembelajaran menyenangkan inilah yang menjadi semangat diluncurkannya Program STEM Nasional. Pada tahap awal, program ini menyasar jenjang Taman Kanak-Kanak (TK), untuk selanjutnya secara bertahap pada jenjang yang lebih tinggi.
Lebih lanjut, Mendikdasmen kembali memberikan contoh saat guru berupaya mengenalkan numerasi kepada siswa usia dini. Alih-alih menggunakan angka di papan tulis, guru bisa mengajak anak melakukan permainan sederhana dengan memanfaatkan berbagai bentuk bangun matematika.
"Mungkin dimulai dari lingkaran guru, melompat ke persegi panjang, kemudian melompat lagi ke segi empat, melompat lagi ke segi tiga. Nah akhirnya mungkin nanti lingkaran lagi dan sebagainya. Dia mengenal itu. Dan bisa dikenalkan angka tanpa dia harus belajar angka. Ketika setiap bangun matematika itu diberi angka. Satu, dua, seterusnya," kata Menteri Mu`ti.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen GTK Kemendikdasmen), Nunuk Suryani, menekankan bahwa pemerintah telah menyiapkan fasilitator nasional dan fasilitator daerah untuk mengimplementasikan Program STEM di satuan pendidikan.
Selain pendampingan dan pelatihan dari fasilitator, Kemendikdasmen juga telah menerbitkan panduan khusus, yang dapat digunakan sebagai rujukan oleh guru dan sekolah, terkait pemenuhan prinsip 5M dalam Program STEM Nasional, yakni Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful.
"Dengan prinsip ini diharapkan agar para pendidikan dapat mengajarkan STEM kepada anak-anak dengan cara yang tidak rumit dan tidak mahal, sehingga dapat benar-benar hadir, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan pembelajaran," ujar Dirjen Nunuk.