Kamis, 03/09/2026 14:25 WIB
Kudus, Jurnas.com - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti secara resmi meluncurkan Program STEM Nasional di Kudus, Jawa Tengah, pada Kamis (3/9).
Pada tahap awal, program yang bertujuan mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi dan numerasi diperkenalkan di jenjang taman kanak-kanak (TK), sebelum diimplementasikan menyeluruh di jenjang selanjutnya.
Menteri Mu’ti mengatakan bahwa Program STEM Nasional merupakan ikhtiar pemerintah untuk meningkatkan kecintaan anak terhadap teknologi sejak usia dini. Dengan demikian, anggapan lama bahwa sains sulit dan mahal bisa diubah.
SE Mendikdasmen Lengkap tentang Pembelajaran selama Karhutla
Bahasa Indonesia Kian Dilirik, Terbanyak Dipelajari Warga Korsel
Siswa Terdampak Karhutla, Mendikdasmen: Pembelajaran Otoritas Pemda
“Sains itu murah tidak harus miliaran, tapi dari keseharian di mana anak anak menemukan berbagai hal di lingkungannya. Sains juga harus menggembirakan. Mindful dan meaningful. Sehingga, karena itu kita ingin membangun ini sejak awal pendidikan usia dini, dan ini kami kaitkan dengan kebijakan presiden tentang Wajib Belajar 13 Tahun dan mengenalkan sains sejak TK,” ujar Mendikdasmen di PAUD Terpadu Kalirejo, Kudus.
Adapun sains dan matematika yang diperkenalkan di jenjang TK, lanjut Mendikdasmen, tidak perlu dengan pembelajaran teoritis nan rumit. Sebaliknya, para guru dapat memanfaatkan dan mengeksplorasi lingkungan sekitar sekolah, agar siswa dapat langsung belajar dari alam.
Pendekatan ini juga dapat membantu guru menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, dengan tetap memenuhi tingginya rasa ingin tahu siswa usia dini.
“Misalnya, komputasi itu kan tidak hanya menghitung yang rumit. Bisa dari lagu. (Lagu) Balonku Ada Lima itu kan mengajarkan numerasi. Anak juga mulai diajak mengenal warna,” ujar Mendikdasmen.
“Atau, kita bisa sediakan mainan yang murah meriah. Atau, misalnya anak bawa buah dari rumah. Kemudian nanti dia bisa menunjukkan buah ke teman-temannya. Terus diminta misalnya warna kuning dikumpulkan dengan warna kuning. Ini kan klasifikasi matematika. Terus suruh menghitung. Kan prinsip di TK itu bermain,” dia menambahkan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, dalam kesempatan yang sama menyatakan bahwa sumber daya manusia Indonesia masa depan mesti memiliki kemampuan berpikir kreatif, kritis, dan inovatif.
Melalui Program Pelatihan STEM Nasional, kata Dirjen Nunuk, diharapkan dapat menutup defisit keterampilan tingkat tinggi, mengurangi kesenjangan mutu antar satuan pendidikan dan daerah, memperkuat relevansi pembelajaran, serta menyiapkan talenta di bidang sains teknologi dan kewirausahaan berbasis inovasi.
“Kami telah melakukan upaya-upaya, yang apabila ndiimplementasikan sesuai yang diharapkan dan mampu menjangkau seluruh sasaran, akan membentuk praktik pembelajaran STEM yang berkesinambungan,” tutup Dirjen Nunuk.