Selasa, 01/09/2026 23:50 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Spanyol mencatat musim panas terpanas sepanjang sejarah pengukuran pada 2026. Suhu ekstrem yang berlangsung berbulan-bulan juga menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan, dengan 5.111 kematian selama Juni hingga Agustus yang dikaitkan dengan paparan suhu tinggi.
Data sementara tersebut dilaporkan lembaga penyiaran publik Spanyol RTVE berdasarkan analisis data badan meteorologi nasional. Suhu rata-rata di daratan utama Spanyol selama 1 Juni hingga 31 Agustus mencapai 26 derajat Celsius, atau 2,5 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991-2020.
Panas tidak hanya muncul dalam beberapa hari ekstrem. Suhu berada di atas kondisi normal selama 95 persen hari pada musim panas, menunjukkan bahwa masyarakat menghadapi periode panas yang berlangsung jauh lebih lama dari sekadar gelombang panas.
Sepanjang musim panas, Spanyol mengalami empat gelombang panas. Bahkan, suhu di atas normal berlangsung selama 49 hari berturut-turut, dari 6 Juni hingga 24 Juli.
Studi: Pohon Pegunungan Bergerak Berlawanan Saat Bumi Makin Panas
Suhu Tembus 42,5 Celsius, Seoul Terbitkan Peringatan Panas Parah
Jangan Anggap Sepele, Panas dan Dingin Ekstrem Bisa Memicu Serangan Jantung
Juni menjadi bulan terpanas kedua dalam catatan, dengan suhu rata-rata 25 derajat Celsius atau 3,5 derajat Celsius di atas normal.
Juli kemudian memecahkan rekor sebagai Juli terpanas yang pernah tercatat, dengan suhu rata-rata 27,3 derajat Celsius atau 2,9 derajat Celsius di atas normal. Agustus menyusul sebagai Agustus terpanas kedua, dengan suhu rata-rata 26,2 derajat Celsius.
Dari seluruh hari selama musim panas, 33 hari masuk kategori sangat luar biasa panas, sedangkan 32 hari lainnya dikategorikan sangat panas.
Puncaknya terjadi di Andujar, Spanyol selatan. Suhu mencapai 45,1 derajat Celsius pada 22 Juni.
Dampak paling serius terlihat pada angka kematian. Sistem Pemantauan Kematian Harian Spanyol (MoMo), yang dikelola Carlos III Health Institute, memperkirakan 5.111 kematian selama Juni, Juli dan Agustus berkaitan dengan suhu tinggi.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak sistem pencatatan dimulai dan lebih dari dua kali rata-rata musim panas 2015-2025.
Agustus mencatat jumlah kematian terkait panas paling tinggi dengan 2.192 kasus, disusul Juli sebanyak 2.025 kasus dan Juni 937 kasus.
Menariknya, hanya sekitar 21 persen dari seluruh kematian tersebut terjadi ketika pemerintah secara resmi menetapkan periode gelombang panas.
Angka itu menunjukkan bahwa risiko kesehatan tidak hanya muncul ketika suhu mencapai level ekstrem. Panas yang berlangsung lama dan terus-menerus juga dapat memberikan tekanan serius terhadap tubuh, terutama ketika suhu tidak kembali normal pada malam hari.
Musim panas 2026 juga memecahkan ratusan rekor temperatur di berbagai wilayah Spanyol.
Sebanyak 342 rekor suhu maksimum dan 470 rekor suhu minimum tertinggi tercatat selama tiga bulan tersebut. Rekor suhu tertinggi sepanjang masa di tingkat lokal juga pecah sebanyak 71 kali.
Sejumlah rekor terjadi di Spanyol bagian utara yang biasanya memiliki suhu lebih rendah dibandingkan wilayah selatan.
Malam hari pun tidak banyak memberikan kesempatan bagi tubuh untuk memulihkan diri. Setiap malam selama musim panas, selalu ada wilayah di Spanyol yang mencatat suhu minimum di atas 20 derajat Celsius.
Di Bandara Almeria, salah satu malam terpanas bahkan membuat suhu tidak turun di bawah 30,8 derajat Celsius.
Kondisi seperti ini menjadi perhatian karena malam yang tetap panas dapat mengurangi kesempatan tubuh untuk melepaskan panas setelah terpapar suhu tinggi sepanjang siang.
Berakhirnya Agustus ternyata belum langsung mengakhiri ancaman panas ekstrem di Spanyol.
Badan meteorologi Spanyol memperingatkan bahwa September diawali dengan suhu yang masih menyerupai puncak musim panas. Suhu diperkirakan mencapai 37-40 derajat Celsius di sejumlah wilayah timur laut, tengah dan selatan daratan utama. (*)
Sumber: Anadolu