AS Desak Negara-Negara G20 Tinjau Kesepakatan Dagang dengan China

Senin, 31/08/2026 15:58 WIB

Washington, Jurnas.com - Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan bakal mengimbau negara-negara anggota G20 untuk meninjau ulang syarat perdagangan dengan China. Langkah ini didorong untuk menekan ketidakseimbangan ekonomi global, sekaligus memaksa Beijing mengalihkan fokus ekonominya dari ketergantungan ekspor ke konsumsi domestik.

Dalam wawancara menjelang pertemuan para pemimpin keuangan G20 di Asheville, Carolina Utara, Bessent menegaskan bahwa lonjakan ekspor China saat ini sudah tidak berlanjut secara sehat bagi pasar global.

"Dunia tidak bisa terus membiarkan China memiliki surplus perdagangan sebesar USD$1,2 triliun," ujar Bessent pada Minggu (30/8/2026) sebagaimana dikutip dari Reuters pada Senin (31/8).

"Perekonomian China saat ini cukup lemah dan mereka berusaha keluar dari masalah tersebut melalui ekspor. Mereka harus menyeimbangkan kembali perekonomiannya," dia menambahkan.

Inisiatif AS untuk menggalang aksi bersama ini muncul di tengah penyesuaian kebijakan tarif Washington. Kebijakan pembatasan serta tarif tinggi yang diterapkan AS berhasil memangkas defisit perdagangannya dengan Tiongkok hingga sepertiga pada semester pertama 2026 menjadi USD$73,9 miliar. Namun, langkah ini berdampak pada teralihkannya arus barang impor Tiongkok ke kawasan lain, khususnya Eropa dan Amerika Latin.

Bessent menambahkan bahwa negara-negara industri lain kini dihadapkan pada pilihan sulit untuk merespons lonjakan masuknya produk-produk manufaktur Tiongkok.

Di samping tekanan perdagangan, Bessent mengonfirmasi agenda penyiapan pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung di Gedung Putih pada akhir September mendatang.

Menjelang KTT tersebut, kedua negara tengah mendiskusikan potensi pengurangan tarif untuk komoditas non-strategis serta pembentukan batasan keamanan untuk teknologi kecerdasan buatan (AI).

"Saya rasa terdapat sekitar 30 miliar dolar AS produk non-strategis dan non-kritis di masing-masing pihak yang tarifnya berpeluang untuk dicabut," kata Bessent.

Selain itu, Bessent dijadwalkan melangsungkan pertemuan bilateral dengan Gubernur Bank Rakyat Tiongkok (PBOC), Pan Gongsheng, di sela-sela rangkaian pertemuan G20 untuk membahas dinamika stabilitas keuangan kedua negara.

TERKINI
Resmi Hengkang, Watkins Tak Menyangka Berakhir di Klub Saudi AS Desak Negara-Negara G20 Tinjau Kesepakatan Dagang dengan China Mengapa 31 Agustus Diperingati Hari Keistimewaan Kota Yogyakarta? Beli Sistem Pertahanan Udara Israel, Yunani Teken Kontrak Rp61,1 Triliun