Senin, 31/08/2026 15:53 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Suasana berbeda mewarnai berbagai sudut Kota Yogyakarta dan wilayah sekitarnya setiap tanggal 31 Agustus.
Aparatur sipil negara, siswa sekolah, hingga pekerja instansi pemerintah tampak mengenakan pakaian adat Gagrak Yogyakarta lengkap dengan kain batik motif mataraman.
Pemandangan bernuansa budaya ini merupakan bagian dari gelaran peringatan Hari Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta yang diperingati secara serentak di seluruh wilayah provinsi.
Peringatan tahunan ini merujuk pada momen bersejarah disahkannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY oleh DPR RI pada 31 Agustus 2012.
31 Agustus 2026: Cek Daftar Peringatan Hari Ini
Daftar 10 Film Terpopuler di Netflix Bulan Ini
Peringatan Referendum Timor Timur 30 Agustus, Ini Sejarah dan Maknanya
Lahirnya undang-undang tersebut menjadi muara dari perjuangan panjang masyarakat Yogyakarta dalam menuntut kepastian hukum atas status keistimewaan daerah mereka.
Sekaligus bentuk pengakuan negara atas kontribusi historis Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman dalam mendukung serta mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Melalui payung hukum tersebut, DIY memperoleh kewenangan khusus yang meliputi tata cara pengisian jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur, penataan kelembagaan, pengelolaan kebudayaan, pertanahan, hingga pengaturan tata ruang.
Penetapan mekanisme ini memastikan posisi Gubernur dan Wakil Gubernur dijabat secara otomatis oleh Raja Kesultanan dan Adipati Pakualaman yang bertakhta, tanpa melalui siklus pemilihan kepala daerah sebagaimana provinsi lainnya.
Penguatan status keistimewaan ini juga diimbangi dengan pengalokasian Dana Keistimewaan melalui APBN.
Dalam praktiknya, alokasi anggaran ini dimanfaatkan untuk membiayai berbagai program pelestarian warisan budaya, pembangunan infrastruktur publik berbasis karakter lokal, pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga revitalisasi kawasan bersejarah.
Salah satu capaian penting dari konsistensi tata ruang dan pelestarian budaya ini adalah diakuinya Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO.
Hari Keistimewaan DIY tidak sekadar dirayakan melalui upacara bendera berbusana adat dan penggunaan bahasa Jawa Krama di ranah kedinasan.
Lebih dari itu, momen ini dirangkai dengan pameran seni, pertunjukan rakyat, dan diskusi publik di berbagai daerah.
Peringatan ini menjadi ruang refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa keistimewaan Yogyakarta dapat terus memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian identitas budaya di tengah arus modernisasi.