BRIN Kaji Efektivitas Tepung Singkong untuk Padamkan Karhutla

Jum'at, 28/08/2026 17:30 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji potensi tepung singkong sebagai alternatif pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara efektif.

Periset Kimia Molekuler BRIN Julinton menjelaskan, alternatif pemadam karhutla tersebut dikembangkan menggunakan material retardan berbasis pati singkong yang dikombinasikan dengan senyawa fosfat untuk meningkatkan efektivitas penggunaan air dalam pengendalian kebakaran vegetasi.

Hal ini selaras dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyetujui penggunaan bahan berbasis tepung singkong sebagai alternatif pemadaman karhutla.  

Lebih lanjut, Julianton menjelaskan bahwa penggunaan pati singkong dalam teknologi pemadam memiliki dasar ilmiah yang dapat dikembangkan lebih lanjut melalui rekayasa kimia dan formulasi.

“Pernyataan Bapak Presiden terkait penggunaan bahan berbasis singkong untuk mendukung pemadaman kebakaran memiliki dasar ilmiah yang kuat. Namun, formulasi, efektivitas, keselamatan, dan dampak lingkungannya tetap harus divalidasi melalui pengujian laboratorium dan lapangan secara terukur,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (27/08).

Potensi utama pati singkong terletak pada struktur polisakaridanya yang kaya gugus hidroksil dan dapat dimodifikasi secara kimia untuk mengatur kemampuan pembentukan film, viskositas, retensi air, serta interaksinya dengan komponen retardan.

Dalam teknologi yang sedang dikembangkan, pati singkong tidak digunakan sendiri, tetapi dikombinasikan dengan ammonium polyphosphate (APP), air, dan wetting agent berkonsentrasi rendah.

“Bahan ini dirancang bekerja melalui beberapa mekanisme yang saling melengkapi. Air berfungsi menyerap panas dan menurunkan temperatur bahan bakar.

"Pati singkong termodifikasi membantu meningkatkan adhesi dan mempertahankan cairan lebih lama pada permukaan vegetasi, sementara wetting agent membantu cairan menyebar dan menembus bahan bakar vegetasi dengan lebih baik. APP kemudian memberikan mekanisme retardasi kimia ketika material menerima panas,” papar Julinton.

Ketika dipanaskan, APP menghasilkan spesies asam fosfat dan polifosfat yang dapat mengatalisis dehidrasi material kaya selulosa dan polisakarida. Mekanisme ini mengarahkan proses pirolisis menuju pembentukan lebih banyak residu karbon padat atau char dan mengurangi pembentukan senyawa volatil yang mudah terbakar.

Lapisan char tersebut kemudian menjadi penghalang terhadap perpindahan panas dan massa serta membatasi kontak langsung antara permukaan bahan bakar dan oksigen.

Dengan demikian, teknologi ini tidak bekerja dengan “menghilangkan oksigen” dari atmosfer. Mekanisme utamanya adalah pendinginan, peningkatan pembasahan dan retensi cairan, serta perubahan jalur dekomposisi termal bahan bakar vegetasi sehingga laju perambatan api berpotensi ditekan.

TERKINI
BRIN Kaji Efektivitas Tepung Singkong untuk Padamkan Karhutla Risiko Banjir Susulan, China Hentikan Evakuasi di Tibet AS Kerahkan Kapal Induk USS Theodore Roosevelt ke Timur Tengah Profil Lengkap Hadratussyaikh KH Hasyim Asy`ari