Jum'at, 28/08/2026 17:20 WIB
Beijing, Jurnas.com - China menghentikan sementara operasi penyelamatan korban banjir di perbatasan Tibet-Nepal, usai Presiden China Xi Jinping memimpin rapat tingkat tinggi bersama jajaran jajaran Politbiro Partai Komunis pada Jumat (28/8/2026).
"Masih banyak bahaya tersembunyi berupa gletser, danau es, dan bencana geologi di daerah sekitarnya, dan upaya penyelamatan menghadapi kesulitan besar," demikian bunyi pernyataan resmi Politbiro sebagaimana dilaporkan kantor berita Xinhua.
Laporan CCTV menyebutkan bahwa sebuah danau alamiah yang terbentuk akibat tumpukan material longsor di wilayah Gyirong mulai meluap menuju jalur evakuasi.
Tim darurat yang sempat menembus area terdampak juga diperintahkan mundur sejauh satu kilometer dari lokasi guna mengantisipasi risiko luapan air.
10 Ribu Keluarga Kehilangan Tempat Tinggal Imbas Banjir Bandang Nepal
Korban Tewas Banjir Bandang Nepal Naik Jadi 389 Orang
Keluarga Korban Banjir Nepal Pasrah Tunggu Kepastian
Merespons perkembangan situasi di Tibet, kepolisian Nepal pada Jumat ini menerbitkan peringatan darurat bagi seluruh personel dan warga di sepanjang aliran sungai, untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
"Informasi telah diterima bahwa tanggul penahan air di wilayah Tibet kembali bobol," kata kepolisian Nepal. Seluruh petugas SAR dan masyarakat juga diimbau mewaspadai aliran banjir susulan yang bergerak ke arah hilir.
Otoritas China memproyeksikan volume air pada danau bentukan tersebut akan terus meningkat dalam tiga hari ke depan akibat curah hujan tinggi, dengan puncak debit air diperkirakan terjadi pada 1 September.
Hingga Jumat, tim SAR China memanfaatkan teknologi pemodelan 3D berbasis drone serta pencitraan termal untuk melacak keberadaan korban. Data resmi CCTV mencatat sebanyak 499 warga negara China dan 555 warga asing telah berhasil dievakuasi keluar dari zona bencana.