Selat Hormuz Tetap Ditutup Selama Perundingan Jalur Transit

Rabu, 26/08/2026 13:43 WIB

Teheran, Jurnas.com - Iran dan Oman tengah mendiskusikan pembentukan koridor transit sementara, serta pembersihan ranjau laut di Selat Hormuz. Meski demikian, Teheran memperingatkan bahwa jalur perairan vital tersebut tidak akan dibuka kembali kecuali Amerika Serikat menghentikan perang.

Pernyataan ini muncul ketika Washington mengumumkan sanksi-sanksi baru yang dirancang untuk menekan Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan mengancam Republik Islam tersebut dengan pembatasan ekonomi total.

Dalam pembicaraan di Teheran, Menteri Luar Negeri Iran dan Oman mendiskusikan kerangka kerja bertahap yang mencakup pembentukan koridor navigasi sementara bersama serta proyek pembersihan ranjau di Selat Hormuz.

Kedua negara tersebut berupaya merumuskan rencana pengaturan transit sebagaimana diatur dalam nota kesepahaman AS-Iran pada Juni lalu, sebagaimana dikutip dari Arab News pada Rabu (26/8).

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa usulan kerangka kerja ini menjadi bukti komitmen negaranya terhadap perdamaian dan stabilitas kawasan, melalui langkah diplomasi bersama negara tetangga.

Hampir enam bulan sejak AS dan Israel memulai aksi militer terhadap Iran, alur lalu lintas di Selat Hormuz masih lumpuh total dan mengganggu pasar minyak global.

Teheran memblokir perairan yang biasanya melayani seperlima ekspor minyak dan gas alam cair dunia tersebut, sementara Washington menerapkan blokade laut balasan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa tidak ada kapal militer dari negara manapun yang diizinkan melintasi Selat Hormuz, sementara kapal komersial akan dipantau secara ketat.

"Sebelum ada tindakan untuk membuka kembali Selat Hormuz, Amerika Serikat harus sepenuhnya memenuhi seluruh komitmen yang telah mereka langgar," ujar Gharibabadi. Dia juga mendesak AS untuk menghentikan perang, mencabut blokade, serta menyelesaikan situasi di Yaman.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengklaim melalui platform Truth Social bahwa seluruh ranjau di perairan internasional Selat Hormuz telah dibersihkan oleh Angkatan Laut AS.

Namun, Gharibabadi menepis klaim tersebut sebagai propaganda dan menekankan bahwa Iran akan menargetkan kapal pembersih ranjau AS yang memasuki area tersebut.

Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi berharap kedua negara dapat segera mengumumkan koridor sementara tersebut. Negosiasi teknis akan terus berlanjut untuk menentukan koridor navigasi permanen, tata kelola lalu lintas, serta mekanisme pertukaran informasi keamanan perairan.

Di Teheran, antrean panjang kendaraan terjadi di stasiun pengisian bahan bakar umum setelah otoritas setempat mengumumkan peninjauan ulang kuota bahan bakar. Perekonomian Iran yang sebelumnya sudah tertekan inflasi tinggi kian memburuk akibat dampak perang.

Sementara itu, sanksi sekunder baru yang dirilis Departemen Keuangan AS menargetkan aset digital, sektor teknologi, emas, penerbangan, hingga perkapalan Iran. Sanksi ini juga menyasar sejumlah entitas global di Uni Emirat Arab, Hong Kong, Tiongkok, Singapura, dan Eropa.

TERKINI
KPK Periksa Kepala Kantor Bea Cukai Kediri Gatot Heroe Syarat Licik AS! Nuklir Saudi Dibarter Normalisasi Israel Jepang Dukung Rencana Jalur Pipa Minyak di Timur Tengah Dinas Rahasia AS Selidiki Ancaman Pembunuhan Anak Trump