Studi: Pohon Pegunungan Bergerak Berlawanan Saat Bumi Makin Panas

Rabu, 26/08/2026 09:03 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Perubahan iklim ternyata tidak membuat semua pohon pegunungan bergerak ke tempat yang lebih tinggi. Studi terbaru menemukan hampir sepertiga spesies justru memperluas wilayah ke arah lereng yang lebih rendah, sementara spesies lain terus bergerak naik.

Selama ini, pemanasan global diperkirakan mendorong pohon pegunungan mencari wilayah yang lebih dingin dengan bergerak menuju ketinggian. Namun, pola tersebut ternyata tidak berlaku bagi semua spesies.

Dikutip dari Earth, penelitian yang dipimpin Xianliang Zhang dari Hebei Agricultural University dan Hongyan Liu dari Peking University menemukan bahwa arah perpindahan pohon kemungkinan berkaitan dengan kemampuan kayu dalam mengalirkan air sekaligus menghadapi kekeringan.

Spesies dengan kemampuan mengangkut air secara cepat cenderung bergerak ke tempat yang lebih tinggi. Sebaliknya, pohon yang lebih tahan terhadap kekeringan justru lebih banyak memperluas wilayah ke arah bawah.

“Memahami bagaimana pohon menyeimbangkan pertumbuhan dan ketahanan terhadap kekeringan membantu menjelaskan respons mereka terhadap perubahan iklim dan memberikan panduan untuk memprediksi hutan di masa depan,” kata Tim Rademacher, salah satu penulis studi sekaligus direktur Proctor Maple Research Center di University of Vermont.

Para peneliti menganalisis perubahan wilayah 102 spesies pohon pegunungan. Sebagian besar perpindahan terjadi pada ketinggian sekitar 200 hingga 3.000 meter.

Box elder, Italian cypress, dan white poplar termasuk spesies yang bergerak naik paling cepat, dengan kenaikan wilayah lebih dari 5 meter per tahun.

Sementara itu, kermes oak dan silver wattle justru bergerak ke arah bawah dengan kecepatan lebih dari 3 meter per tahun.

Padahal, seluruh spesies tersebut menghadapi periode pemanasan yang sama.

Untuk mengetahui kemungkinan penyebab perbedaan tersebut, peneliti kemudian membandingkan data perpindahan wilayah dengan karakteristik kayu dan catatan pertumbuhan pohon.

Data cincin pohon menjadi salah satu sumber penting. Lebar cincin menunjukkan pertumbuhan pada tahun tertentu, sementara cincin yang lebih tipis dapat menunjukkan kondisi pertumbuhan yang kurang baik.

Dari persyaratan data yang ketat, peneliti akhirnya menganalisis 121.743 pohon dari 3.057 lokasi untuk 45 spesies.

Air dari akar menuju daun melalui saluran kecil di dalam kayu. Saluran yang mampu mengalirkan air lebih cepat dapat mendukung pertumbuhan ketika kondisi tanah cukup basah.

Namun, kemampuan tersebut memiliki konsekuensi. Kayu yang lebih efisien mengalirkan air tidak selalu lebih kuat menghadapi kondisi ketika tanah mengering.

Sebaliknya, spesies yang memiliki sistem pengangkutan air lebih tahan terhadap tekanan kekeringan cenderung mampu bertahan di lingkungan yang lebih panas dan kering.

Hasil penelitian menunjukkan spesies dengan ketahanan lebih tinggi terhadap kekeringan cenderung bergerak menuju dataran yang lebih rendah. Sementara spesies dengan kemampuan mengalirkan air tinggi lebih banyak bergerak ke atas.

Satu karakteristik tersebut mampu menjelaskan sekitar seperempat perbedaan kecepatan perpindahan wilayah antarpohon.

Menariknya, tingkat pemanasan suatu wilayah ternyata tidak secara langsung menjelaskan seberapa cepat pohon berpindah.

Peneliti membandingkan perubahan suhu di lokasi penelitian antara 1951 dan 1990. Meski sebagian besar lokasi mengalami pemanasan dengan tingkat yang berbeda-beda, spesies di wilayah yang mengalami pemanasan lebih cepat tidak selalu bergerak lebih cepat.

Artinya, respons pohon terhadap perubahan iklim tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar suhu meningkat.

Kemampuan menghadapi kekeringan dan karakteristik biologis masing-masing spesies tampaknya turut menentukan arah perubahan wilayah mereka.

Namun, para peneliti menegaskan hubungan tersebut belum membuktikan bahwa karakteristik kayu secara langsung menyebabkan perpindahan pohon.

Faktor lain seperti kondisi tanah, kelembapan udara, keberadaan spesies lain, penyakit, fragmentasi habitat, serta aktivitas manusia juga dapat memengaruhi perubahan hutan pegunungan.

Bagi pohon yang bergerak menuju tempat lebih tinggi, perpindahan tersebut bukan tanpa batas. Semakin tinggi sebuah gunung, semakin kecil pula luas wilayah yang tersedia. Kurang dari 5 persen wilayah pegunungan dunia berada pada ketinggian lebih dari 2.000 meter.

Kondisi ini membuat spesies yang bergantung pada habitat dingin menghadapi risiko semakin menyempitnya wilayah hidup.

“Temuan kami menunjukkan bahwa perlindungan iklim di kawasan perlindungan tidak selalu menjadi solusi universal,” kata Liu.

Menurutnya, spesies yang sensitif terhadap kekeringan pada akhirnya dapat terkurung di wilayah yang semakin kecil di dataran tinggi. Pada saat yang sama, spesies yang lebih tahan kekeringan dapat terus memperluas wilayah ke dataran rendah.

Namun, bergerak turun juga bukan berarti sepenuhnya aman. Pohon yang memasuki wilayah baru dapat menghadapi penyakit, kompetitor, dan kondisi lingkungan yang sebelumnya tidak mereka hadapi.

Penelitian ini terutama menggunakan data historis yang sebagian besar berakhir sekitar 1990. Data cincin pohon dan survei perubahan wilayah untuk beberapa spesies juga semakin terbatas setelah periode tersebut.

Karena itu, hasil penelitian belum sepenuhnya menggambarkan perubahan hutan pegunungan dalam beberapa dekade terakhir.

Peneliti juga belum dapat memisahkan seluruh pengaruh lingkungan di sepanjang lereng gunung. Kondisi tanah, kelembapan, interaksi dengan spesies lain, hingga perubahan penggunaan lahan oleh manusia dapat memengaruhi kemampuan pohon berpindah.

Studi lanjutan dengan pengambilan sampel cincin pohon terbaru, survei wilayah spesies, serta pengukuran karakteristik pohon pada berbagai ketinggian diperlukan untuk mengetahui bagaimana hutan pegunungan merespons pemanasan yang terus berlangsung. (*)

Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change.

Sumber: Earth

TERKINI
Fasilitas Intelijen AS di Timur Tengah Rusak Parah Gelombang Panas Eropa Tewaskan Sedikitnya 35.000 Orang Studi: Pohon Pegunungan Bergerak Berlawanan Saat Bumi Makin Panas Pasbata Soroti Wacana Prabowo Tak Sampai 2029: Apa Dasarnya?