Viral Prabowo Tuding Wartawan "Londo Ireng", Apa Artinya?

Jum'at, 24/07/2026 19:19 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Istilah "Londo Ireng" mendadak ramai diperbincangkan netizen di berbagai media sosial.

Istilah tersebut disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto saat berpidato dalam peringatan puncak Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (23/7).

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo menyebutkan bahwa masih ada pihak-pihak di Indonesia yang justru mengabdi pada kepentingan bangsa lain.

Kelompok yang dituding tersebut ia menyebutnya sebagai "londo ireng".

"Londo-londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain, kan? Wartawan, jurnalis apa itu? pengamat, LSM," tuding Prabowo.

Prabowo menilai bahwa sejak zaman penjajahan dulu, sudah ada orang-orang Indonesia yang tidak patriotik dan justru mengabdi kepada bangsa lain.

Penggunaan istilah yang unik ini membuat banyak orang bertanya-tanya, apa sebenarnya arti kata Londo Ireng.

Dikutip dari berbagai sumber, secara etimologi, kata Londo Ireng berasal dari bahasa Jawa, yaitu londo (atau Landa)-sebutan masyarakat Indonesia untuk orang Belanda atau bangsa Eropa kulit putih secara umum, dan Ireng alias hitam

Secara harfiah, Londo Ireng diterjemahkan sebagai "Belanda Hitam". Dalam konteks sosial, istilah ini sejak era kolonial yang digunakan sebagai sindiran bagi orang pribumi yang berpenampilan, berlogat, atau berbudaya lokal, namun bertindak, berpikir, serta berpihak sepenuhnya kepada pihak penjajah/asing.

Adapun dari sisi histori, istilah londo ireng lahir dari dua arus sejarah utama pada era Hindia Belanda abad ke-19. Antara tahun 1831 hingga 1872, pemerintah kolonial Belanda (melalui tentara Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger atau KNIL) merekrut ribuan pemuda dari kawasan Afrika Barat—terutama Elmina (kini wilayah Ghana) untuk dijadikan tentara bayaran di Hindia Belanda.

Tentara asal Afrika ini direkrut untuk membantu militer Belanda yang kewalahan memadamkan berbagai perlawanan rakyat di Nusantara, seperti Perang Jawa (1825–1830).

Karena berbadan tinggi besar, berkulit gelap, namun berseragam dan berstatus hukum sama dengan serdadu Eropa, masyarakat pribumi Jawa saat itu menjuluki mereka sebagai Belanda Hitam (Londo Ireng).

Seiring berjalannya waktu, istilah Londo Ireng tidak lagi hanya ditujukan kepada tentara asal Afrika, melainkan meluas kepada orang pribumi asli yang direkrut menjadi serdadu KNIL, pegawai administrasi (ambtenaar), atau mata-mata Belanda.

Bagi pejuang dan rakyat Nusantara, para pribumi yang mengabdi pada Belanda ini dinilai lebih kejam dibanding orang Belanda asli.

Mereka dianggap rela menindas bangsa sendiri demi gaji, fasilitas, serta status sosial yang diberikan oleh pemerintah kolonial.

TERKINI
10 Keutamaan Sholat Berjamaah Menurut Al-Qur`an dan Hadis Sulit Khusyuk saat Sholat? Ini Cara yang Dianjurkan Rasulullah Perkuat Transparansi, KPK Supervisi Tata Kelola BBM Pelni Kebakaran Hutan di Madrid, Spanyol Umumkan Darurat Nasional