Selasa, 07/07/2026 21:01 WIB
Damaskus, Jurnas.com - Presiden Prancis Emmanuel Macron pada hari Selasa menyatakan komitmen negaranya untuk mendukung pemulihan ekonomi dan sistem perbankan Suriah.
Pernyataan ini disampaikan Macron di tengah kunjungannya di Damaskus, yang tetap dilanjutkan meskipun sempat terjadi insiden dua ledakan bom di dekat hotel tempat dia melangsungkan sejumlah pertemuan.
"Kami ingin terus berupaya dalam restrukturisasi sektor perbankan," ucap Macron saat berbicara dalam konferensi pers bersama Presiden Suriah, Ahmed al-Sharaa, dikutip dari Arab News pada Selasa (7/7).
Lebih lanjut, Macron menyebutkan bahwa pemerintah Prancis juga sedang bekerja untuk memberikan pendampingan kepada bank sentral Suriah.
So Sweet! Macron Ajak PM Italia "Ketemuan", Istana: Saling Butuh
Prancis Serukan Koalisi Maritim Eropa-Indo Pasifik untuk Keamanan Laut
Presiden Prancis: Indonesia Mitra Strategis dari Indo-Pasifik
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Ahmed Al-Sharaa menegaskan harapannya agar Prancis dapat menjadi mitra strategis yang paling utama bagi pemerintahan Damaskus.
Al-Sharaa meyakini bahwa posisi negaranya kini telah kembali diperhitungkan sebagai pusat transit vital usai terjadinya insiden penutupan Selat Hormuz beberapa waktu lalu.
"Setelah krisis Selat Hormuz, dunia menyadari nilai koridor yang aman dan stabil. Di sinilah pentingnya geografi Suriah ditonjolkan, yang hari ini telah mendapatkan kembali peran vitalnya sebagai penghubung yang sangat diperlukan di pasar koridor global, dan kami ingin Prancis menjadi mitra utama kami di jalur ini," ujar Sharaa.
Upaya pembangunan kembali Suriah ini menjadi langkah krusial setelah negara tersebut luluh lantak akibat konflik internal yang berkepanjangan selama bertahun-tahun.
Perang saudara yang meletus sejak 2011 tersebut tidak hanya memicu krisis kemanusiaan yang merenggut ratusan ribu nyawa, tetapi juga menghancurkan sebagian besar infrastruktur dasar, fasilitas publik, hingga melumpuhkan roda perekonomian nasional secara keseluruhan.
Untuk membangkitkan kembali negaranya dari masa-masa kelam, pemerintah Suriah kini harus memfokuskan seluruh sumber dayanya pada program pemulihan pascaperang berskala masif.
Rekonstruksi ini membutuhkan kucuran investasi yang luar biasa besar demi membangun kembali kota-kota yang hancur, menstabilkan nilai mata uang, serta menarik kembali kepercayaan komunitas internasional untuk menciptakan kemandirian dan stabilitas jangka panjang.