Studi Ungkap 9 dari 10 Cerita Fiksi Modern Mengabaikan Perubahan Iklim

Senin, 06/07/2026 09:35 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Perubahan iklim telah mengubah wajah dunia melalui gelombang panas, banjir, kekeringan, hingga kebakaran hutan yang terjadi semakin sering. Namun, sebuah studi terbaru justru menemukan kenyataan berbeda di dunia sastra.

Di tengah krisis iklim yang terus memburuk, mayoritas karya fiksi modern ternyata hampir tidak pernah mengangkat isu tersebut.

Penelitian yang dipimpin Rice University bersama Colby College mengungkap lebih dari 90 persen cerita pendek yang diterbitkan majalah sastra ternama The New Yorker selama periode 2014–2023 tidak secara serius membahas perubahan iklim maupun krisis lingkungan lainnya.

Dikutip dari Earth, tim peneliti menganalisis 474 cerita pendek orisinal yang diterbitkan The New Yorker selama satu dekade.

Majalah tersebut dipilih karena dikenal luas memiliki liputan jurnalistik yang kuat mengenai perubahan iklim, sehingga peneliti memperkirakan karya fiksinya juga akan mencerminkan isu yang sama. Namun hasilnya justru menunjukkan sebaliknya.

Hanya 10,1 persen cerita yang menyinggung perubahan iklim dalam bentuk apa pun. Bahkan ketika cakupan diperluas ke seluruh persoalan lingkungan, seperti polusi, deforestasi, hingga kepunahan spesies, angkanya hanya meningkat menjadi 20,9 persen.

Sebagian besar penyebutan itu pun hanya berupa referensi singkat tanpa menghubungkannya dengan penyebab maupun dampak nyata terhadap kehidupan manusia.

Yang lebih mengejutkan, pola tersebut hampir tidak berubah selama sepuluh tahun terakhir, meski dampak perubahan iklim di dunia nyata semakin nyata.

Ketua peneliti, Matthew Schneider-Mayerson, Associate Professor of English and Creative Writing di Rice University sekaligus Direktur Program Environmental Studies, menilai absennya isu lingkungan dalam karya sastra dapat memengaruhi cara masyarakat memandang krisis iklim.

"Selain dampak ekologis dan geofisik, perubahan iklim juga memperburuk persoalan ekonomi, politik, dan sosial. Mengabaikan, meminggirkan, atau mengecilkan krisis iklim dan lingkungan dalam cerita-cerita populer membuat masa depan yang sangat katastrofik menjadi semakin mungkin terjadi," ujar Schneider-Mayerson.

Menurutnya, selama ini penelitian sastra lebih banyak berfokus pada analisis karya individual. Padahal, yang jauh lebih berpengaruh adalah pola kolektif dari ribuan cerita yang dibaca masyarakat.

"Di era yang dipenuhi berbagai narasi lintas media, justru keberadaan atau ketiadaan isu lingkungan secara kolektif memiliki pengaruh paling kuat terhadap sikap, keyakinan, dan perilaku publik terkait perubahan iklim," katanya.

Salah satu temuan yang paling mengejutkan adalah karya sastra tersebut ternyata tidak lebih baik dibanding industri film.

Para peneliti sebelumnya memperkirakan cerita pendek The New Yorker akan lebih sering mengangkat perubahan iklim dibanding film-film arus utama. Namun hasil analisis justru menunjukkan tingkat kemunculannya hampir sama.

Bahkan, film-film komersial menunjukkan tren peningkatan dalam memasukkan isu perubahan iklim dari tahun ke tahun, sedangkan cerita pendek di The New Yorker cenderung stagnan.

"Kami menemukan bahwa kehadiran isu perubahan iklim hampir sama dengan yang terlihat pada studi film sebelumnya, menunjukkan adanya semacam `konsensus budaya` yang tidak tertulis mengenai seberapa sering isu ini dimunculkan. Bedanya, pada film tingkat kemunculannya meningkat seiring waktu, sedangkan pada cerita pendek trennya datar," ujar Schneider-Mayerson.

Penelitian ini tidak menyimpulkan bahwa seluruh karya sastra harus menjadikan perubahan iklim sebagai tema utama. Namun, penulis menilai dunia fiksi seharusnya mulai mengakui bahwa krisis tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Menurut Schneider-Mayerson, perubahan kecil dalam cerita pun dapat membantu membangun kesadaran pembaca, misalnya dengan menampilkan karakter yang menggunakan sepeda, mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor, atau sekadar menunjukkan bahwa lingkungan telah berubah akibat krisis iklim.

"Apa yang disebut sebagai `cerita yang baik` di tengah krisis iklim yang mengancam hampir semua hal yang kita hargai? Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa fiksi kontemporer bahkan gagal mengakui apa yang sedang terjadi di sekitar kita," ujarnya.

"Jika sastra terus mengabaikan krisis iklim dan alam, paling tidak ia mengalihkan perhatian pembaca dari dunia nyata, dan dalam skenario terburuk justru menyesatkan mereka tentang kenyataan," dia menambahkan.

Para peneliti menilai fiksi tidak perlu berubah menjadi media ceramah mengenai lingkungan. Namun, karya sastra juga tidak seharusnya terus menulis seolah-olah perubahan iklim bukan bagian dari realitas kehidupan manusia saat ini.

Dengan memasukkan isu tersebut secara alami ke dalam cerita, sastra dinilai dapat membantu membentuk cara masyarakat memahami tantangan terbesar abad ke-21. (*)

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Environmental Communication.

Sumber: Earth

TERKINI
KUHP Baru Tutup Celah Kejahatan Korporasi Berkedok Perusahaan Korban Gempa Venezuela Bertambah Jadi 3.342 Jiwa, Ribuan Bangunan Rusak Studi Ungkap 9 dari 10 Cerita Fiksi Modern Mengabaikan Perubahan Iklim Rakernas Evaluasi Haji, Wamenhaj: Kemenhaj Harus Benar-benar Berwajah Baru