Rabu, 24/06/2026 20:15 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani meminta Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN memastikan Program Gerakan Orang Tua Asuh Stunting (GENTING) benar-benar memberikan dampak nyata terhadap penurunan angka stunting di Indonesia, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Hal itu disampaikan Netty dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI dengan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (24/6).
Politikus PKS tersebut menegaskan, keberhasilan program tidak cukup diukur dari banyaknya pihak yang terlibat sebagai orang tua asuh stunting, tetapi harus dilihat dari efektivitas pendampingan yang diberikan kepada keluarga berisiko stunting secara berkelanjutan.
Calon KI Pusat Diminta Hadirkan Standar Keterbukaan Informasi yang Seragam
Legislator NasDem Pertanyakan Urgensi Jalur Mandiri dalam Seleksi Masuk PTN
DPR Dorong Perbaikan Tata Kelola MBG, Daerah Tertinggal Jadi Prioritas
“Saya masih menyimpan pertanyaan apakah kemudian program ini masih didominasi oleh selebrasi yang berlebihan ketimbang kemudian program pendampingannya,” kata Netty.
Dalam kesempatan itu, dia meminta BKKBN menjelaskan berbagai praktik terbaik (best practice) pelaksanaan program Orang Tua Asuh Stunting yang telah diterapkan di sejumlah daerah. Menurut dia, informasi tersebut penting untuk memastikan program berjalan efektif dan dapat direplikasi di wilayah lain.
Ia mencontohkan Program Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang telah memiliki banyak regulasi di berbagai daerah, namun implementasinya belum sepenuhnya menunjukkan hasil yang signifikan. Karena itu, ia mengingatkan agar Program GENTING tidak mengalami kondisi serupa.
“Jadi ini menurut saya perlu juga disampaikan seperti apa pola-pola best practice dari orang tua asuh stunting,” ujarnya.
Netty menilai perlu ada penjelasan yang lebih rinci mengenai bentuk pendampingan yang dilakukan oleh para orang tua asuh kepada keluarga sasaran. Menurutnya, masyarakat perlu mengetahui sejauh mana keterlibatan orang tua asuh dalam membantu pemenuhan kebutuhan gizi maupun pendampingan keluarga yang berisiko mengalami stunting.
“Apakah kemudian orang tua asuh stunting ini secara rutin memberikan asupan bergizi buat keluarga berisiko stunting atau kemudian sebagiannya memang memelihara secara khusus, merawat secara khusus seperti itu. Nah ini penting untuk diperjelas gerakan orang tua asuh stunting,” tegasnya.
Lebih lanjut, Netty mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan program tidak boleh berhenti pada tingginya partisipasi masyarakat atau banyaknya orang tua asuh yang terlibat. Yang terpenting, kata dia, adalah sejauh mana program tersebut mampu berkontribusi terhadap penurunan angka stunting secara nyata.
“Jangan sampai kita euforia bahwa ada sekian orang tua asuh stunting tapi kemudian tidak berbanding lurus dengan penyelesaian stunting itu sendiri,” pungkasnya.