Larangan Tajassus, Mencari-cari dan Mengumbar Aib Orang Lain

Jum'at, 19/06/2026 08:58 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Di era media sosial, membongkar kehidupan pribadi, mengomentari kesalahan orang lain, hingga menyebarkan aib seseorang kerap dianggap hal biasa. Padahal, dalam ajaran Islam, perilaku mencari-cari kesalahan dan membuka aib orang lain termasuk perbuatan dilarang.

Sikap itu dikenal dengan istilah tajassus, yaitu kebiasaan menyelidiki dan mengungkap aib orang lain yang seharusnya tidak diungkap. Perbuatan ini tidak hanya merusak kehormatan seseorang, tetapi juga dapat menghancurkan persaudaraan dan menumbuhkan prasangka buruk di tengah masyarakat.

Karena itu, umat Islam diperintahkan menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan yang dilarang syariat. Tidak hanya menjaga lisan dari ucapan buruk dan fitnah, tetapi juga menghindari tindakan yang dapat membuka atau menyebarkan aib sesama Muslim.

Larangan tajassus ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur`an Surat Al-Hujurat ayat 12:

"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain."

Ayat tersebut mengingatkan bahwa tajassus berkaitan erat dengan prasangka buruk dan ghibah. Ketiganya menjadi perilaku yang dapat merusak hubungan sosial serta menghilangkan rasa saling percaya di tengah masyarakat.

Dalam tafsirnya, Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa larangan "wa laa tajassasu" mengandung makna larangan mengintip, menyelidiki, dan mencari-cari aib orang lain. Tindakan tersebut dinilai sebagai bentuk pelanggaran terhadap privasi dan kehormatan sesama manusia.

Rasulullah SAW juga memperingatkan umatnya agar menjauhi kebiasaan tersebut. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, beliau bersabda:

"Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta. Janganlah kalian mencari-cari aib orang lain, jangan saling membenci, dan jadilah kalian bersaudara."

Pesan Rasulullah SAW ini semakin relevan di tengah perkembangan teknologi informasi saat ini. Banyak orang dengan mudah membagikan kesalahan orang lain, menyebarkan rumor, bahkan menjadikan kekurangan seseorang sebagai bahan candaan demi memperoleh popularitas.

Padahal, Islam mengajarkan agar seorang Muslim lebih fokus memperbaiki dirinya sendiri daripada sibuk mengurusi aib orang lain. Setiap manusia memiliki kekurangan dan tidak luput dari kesalahan. Karena itu, menjaga kehormatan sesama merupakan bagian dari akhlak mulia yang sangat dianjurkan.

Rasulullah SAW bahkan menjanjikan balasan besar bagi mereka yang menutupi aib saudaranya. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda:

"Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat."

Ulama juga mengingatkan bahwa apabila melihat kesalahan seseorang yang bersifat pribadi, maka yang dianjurkan adalah memberikan nasihat secara tertutup dan penuh kasih sayang, bukan menyebarkannya kepada publik.

Nasihat yang dilakukan secara baik lebih berpeluang memperbaiki keadaan dibanding membuka aib yang justru dapat mempermalukan dan menyakiti orang lain.

Di tengah maraknya budaya viral dan perburuan sensasi di media sosial, peringatan tentang bahaya tajassus menjadi semakin penting. Islam mengajarkan bahwa menjaga kehormatan sesama Muslim merupakan bagian dari ketakwaan. Sebaliknya, membuka aib orang lain tanpa alasan yang dibenarkan dapat mendatangkan dosa dan merusak kehidupan sosial.

Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk lebih banyak melakukan introspeksi diri, memperbanyak istighfar, dan menjaga lisan maupun jari dari perbuatan yang dapat menyakiti sesama. Sebab, sebagaimana janji Rasulullah SAW, siapa yang menutupi aib saudaranya, maka Allah SWT akan menjaga dan menutupi aibnya di dunia maupun di akhirat. (*)

Sumber: Nu Online

TERKINI
Kisah Sahabat Nabi yang Bersembunyi Saat Salat Jumat Turun, Harga Emas Antam jadi Rp2,67 Juta per Gram Saat Uwais Al-Qarni Menggendong Ibunya Menuju Tanah Suci Kisah Abdurrahman bin Auf, Sahabat Rasulullah Terkaya yang Memulai dari Nol