Militer Israel Serang Markas Hizbullah di Beirut

Minggu, 14/06/2026 20:20 WIB

Beirut, Jurnas.com - Israel mengumumkan bahwa pasukan militernya telah meluncurkan serangan udara ke sejumlah basis sasaran milik kelompok Hizbullah di wilayah pinggiran selatan Beirut pada Minggu (14/6).

Operasi militer tersebut diklaim sebagai aksi balasan langsung setelah kelompok bersenjata asal Lebanon itu terdeteksi melepaskan tembakan roket ke dalam wilayah teritori Israel.

Pihak militer Israel sebelumnya menyatakan bahwa Hizbullah telah meluncurkan tiga proyektil ke arah permukiman warga di wilayah Israel utara, sebuah tindakan yang dituding sebagai bentuk pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata yang tengah berjalan.

"IDF kini telah menyerang target teroris dari organisasi teroris Hizbullah di lingkungan Dahiyeh, Beirut, sebagai tanggapan atas penembakan Hizbullah ke dalam wilayah Israel," demikian pernyataan bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz, dikutip dari Reuters pada Minggu (14/6).

Sejauh ini belum ada komentar resmi dari pihak Hizbullah mengenai klaim serangan udara Israel di Dahiyeh tersebut, namun kelompok tersebut menyatakan di hari yang sama bahwa mereka telah meluncurkan rudal dan pesawat tanpa awak (drone) ke arah konsentrasi pasukan Israel di wilayah Lebanon selatan.

Eskalasi pertempuran di wilayah Dahiyeh belakangan ini kerap menjadi titik krusial yang memicu aksi saling balas antara militer Israel dan Iran, yang dikhawatirkan dapat merusak momentum kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang berskala besar di kawasan tersebut.

Hingga saat ini, Washington dan Tehran dilaporkan terus bergerak semakin dekat menuju penandatanganan kesepakatan komprehensif demi mengakhiri konflik yang telah berkecamuk selama lebih dari tiga bulan.

Bahkan, para pemimpin dari AS dan Pakistan memproyeksikan proses penandatanganan dokumen damai tersebut dapat terlaksana pada Minggu ini. Iran juga sejak lama telah menegaskan bahwa penghentian total pertempuran di Lebanon merupakan syarat mutlak dan tidak bisa ditawar untuk setiap kesepakatan damai yang lebih luas dengan Amerika Serikat.

Berdasarkan keterangan dari sejumlah sumber keamanan internal di Lebanon, serangan udara yang menghantam kawasan padat penduduk di Dahiyeh tersebut tampaknya merupakan operasi serangan presisi yang ditargetkan secara khusus dengan menggunakan dua hantaman rudal taktis.

TERKINI
Nottingham Forest Ajukan Tawaran Resmi untuk Gelandang Arsenal Ruben Amorim Selangkah Lagi Jadi Pelatih Baru AC Milan Pochettino Diyakini Takkan Perpanjang Kontrak dengan Timnas AS Ini Starter Timnas Inggris Paling Ideal versi Kyle Walker