Gunung Api Ini Mendadak Aktif Setelah 700.000 Tahun "Tertidur"

Kamis, 21/05/2026 11:32 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Sebuah gunung api di tenggara Iran mengalami kenaikan permukaan tanah sekitar 3,5 inci (9 sentimeter) dalam waktu 10 bulan. Meski terdengar kecil, perubahan ini dinilai sangat signifikan oleh para ilmuwan.

Sebuah studi baru menggunakan data satelit untuk mendeteksi perubahan tersebut dan menyebut adanya tekanan yang sedang terbentuk di dekat puncak gunung. Gunung api itu adalah Taftan. Gunung ini belum pernah tercatat meletus dalam sejarah manusia, namun sinyal terbaru menunjukkan sistem vulkaniknya mulai bergerak dan perlu dipantau secara serius.

Dikutip dari Earth, para ilmuwan melacak pergerakan tanah menggunakan InSAR, metode radar yang mengukur gerakan permukaan bumi dari luar angkasa. Mereka memanfaatkan satelit Sentinel-1 yang mampu bekerja siang dan malam serta dapat menembus awan.

Kenaikan permukaan Gunung Taftan berlangsung sedikit lebih dari 10 bulan dan terpusat di area dekat puncak. Permukaan yang naik tersebut belum kembali turun, menandakan tekanan di bawahnya belum mereda.

Pablo J. González dari Institute of Natural Products and Agrobiology milik Spanish National Research Council (IPNA) menjadi penulis senior dalam penelitian ini.

Gunung Taftan berada di wilayah terpencil dan tidak memiliki instrumen pemantauan langsung seperti GPS kontinu. Karena itu, radar satelit menjadi cara terbaik untuk memantau gunung yang jarang dikunjungi manusia tetapi dikelilingi banyak permukiman.

Tim peneliti memodelkan sumber tekanan berada hanya sekitar 1.600 hingga 2.070 kaki (490 hingga 630 meter) di bawah permukaan. Kedalaman dangkal ini mengindikasikan keberadaan gas yang bergerak dan terkumpul di dalam sistem hidrotermal – area tempat air panas dan gas bersirkulasi di bawah gunung api.

Para ilmuwan menguji kemungkinan penyebab umum dan menyingkirkan faktor hujan lebat maupun gempa bumi di sekitar lokasi. Sinyal kenaikan muncul dan melambat tanpa pengaruh eksternal, sesuai dengan proses internal di dalam tubuh gunung api.

Lebih dalam lagi terdapat reservoir magma, yaitu kumpulan besar batuan cair di bawah tanah.

Reservoir tersebut berada lebih dari 2 mil (3,2 kilometer) di bawah permukaan, sehingga dorongan saat ini kemungkinan berasal dari gas di atasnya, bukan magma baru yang naik ke permukaan.

Pola yang terlihat menyerupai tekanan perlahan. Awalnya tanah naik, lalu stabil ketika retakan baru terbuka dan sebagian gas menemukan jalur keluar.

Gunung Taftan merupakan stratovolcano setinggi 12.927 kaki (3.940 meter), yaitu gunung api curam yang terbentuk dari lapisan lava dan abu vulkanik. Gunung ini masih memiliki fumarol di puncaknya – lubang yang mengeluarkan gas vulkanik – yang menunjukkan sistem di bawahnya masih aktif.

Catatan letusan selama 10.000 tahun terakhir sangat minim, dan hal itulah yang menjadi persoalan. Tidak adanya aktivitas tercatat bukan berarti sistem vulkaniknya benar-benar mati.

Gunung api dapat “tertidur” sangat lama lalu berubah dalam hitungan bulan. Karena itu, ilmuwan tidak hanya memperhatikan semburan abu sebagai tanda bahaya awal. Mereka juga memantau gas, panas, dan pergerakan tanah.

Label memang membantu, tetapi pengukuran langsung jauh lebih penting. Deformasi baru ini adalah hasil pengukuran nyata, bukan sekadar label.

Salah satu penyebab yang paling mungkin adalah penumpukan gas di dalam batuan dan retakan sempit. Ketika tekanan gas meningkat, batuan sedikit terangkat dan area puncak merespons lebih dulu.

Kemungkinan lain adalah adanya dorongan kecil material cair yang melepaskan zat volatil – gas yang keluar dari magma – ke sistem saluran vulkanik yang lebih dangkal. Gas tersebut kemudian bergerak naik dan meningkatkan tekanan di pori-pori batuan.

Kedua kemungkinan itu sesuai dengan sumber dangkal dan waktu terjadinya fenomena. Data juga menunjukkan bahwa ketika gas menemukan jalur keluar, laju kenaikan permukaan mulai melambat.

Meski demikian, kondisi ini belum tentu mengarah pada letusan. Namun situasi tersebut tetap membutuhkan perhatian karena tekanan di bawah tanah membutuhkan jalur keluar, dan jalur yang dipilih akan sangat menentukan dampaknya.

Pihak berwenang dapat mulai menyiapkan jalur evakuasi, membuat peta bahaya, dan menyebarkan panduan sederhana kepada masyarakat sekitar. Persiapan yang jelas sejak awal dapat mengurangi kebingungan jika kondisi berubah sewaktu-waktu.

Gunung Taftan berada di wilayah subduksi, tempat satu lempeng tektonik bergerak masuk ke bawah lempeng lainnya. Kondisi ini menghasilkan magma di kedalaman dan fluida kaya gas di lapisan lebih atas.

Gunung ini memiliki dua puncak utama dan ventilasi gas yang telah aktif sejak lama. Fitur tersebut menunjukkan bahwa panas masih terus naik dari bawah permukaan.

Banyak gunung api di dunia mengalami perubahan lambat serupa tanpa berujung letusan. Namun ada juga yang tiba-tiba meningkat cepat setelah lama tenang sehingga membutuhkan respons segera.

Kesimpulan utamanya adalah pemantauan rutin yang konsisten dapat menyelamatkan nyawa. Pemantauan membuat potensi kejutan berubah menjadi risiko yang dapat dipahami dan diantisipasi.

Satelit radar mampu melihat menembus awan dan asap tanpa terpengaruh siang atau malam. Teknologi ini sangat membantu di wilayah kering dan terpencil dengan cuaca ekstrem.

Sentinel-1 membawa radar C-band yang melakukan pengamatan berulang secara rutin sehingga ilmuwan dapat membuat “film” pergerakan tanah dari waktu ke waktu. Pengamatan berulang sangat penting ketika perubahan yang terjadi hanya beberapa inci.

Semakin banyak satelit yang diluncurkan, semakin cepat pula pembaruan data diperoleh saat kondisi berubah.

Kombinasi pemantauan dari luar angkasa dan instrumen di lapangan menjadi metode terbaik. Satelit memantau gambaran besar, sementara alat di gunung memberikan detail lebih rinci.

Jika permukaan tanah mulai turun, itu berarti tekanan mulai mereda dan gas telah menemukan jalur keluarnya. Namun jika kenaikan terus berlanjut atau semakin cepat, tekanan masih bertambah dan risiko aktivitas uap meningkat.

Jika pengukuran gas meningkat tajam dan bertahan tinggi, hal itu menjadi tanda peringatan tambahan. Perubahan drastis pada gempa-gempa kecil di bawah puncak juga akan meningkatkan kekhawatiran para ilmuwan.

Para peneliti kini akan menguji apakah saluran di bawah gunung tetap tertutup rapat atau mulai terbuka. Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan seberapa besar tekanan gas berikutnya.

Bagi masyarakat sekitar, langkah sederhana dapat membantu, seperti memahami arah angin, menyiapkan masker untuk mengurangi dampak bau sulfur, dan mengikuti arahan resmi dari otoritas setempat. (*)

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Geophysical Research Letters. Sumber: Eart

TERKINI
Gunung Api Ini Mendadak Aktif Setelah 700.000 Tahun "Tertidur" Pemerintah Iran Penjarakan Eks Kiper Timnas Sepakbola, Ini Penyebabnya Viva Yoga Puji Pidato Ekonomi Prabowo, Siap Direalisasikan di Lapangan BUMN Khusus Ekspor SDA Dibentuk, Migas Tak Termasuk, Ini Penjelasan Bahlil