Selasa, 12/05/2026 17:05 WIB
Jakarta, Jurnas.com — Ketua Komisi X DPR RI sekaligus anggota MPR RI Hetifah Sjaifudian mendorong agar babak final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat digelar ulang menyusul polemik kesalahan penilaian yang memicu sorotan publik.
Menurut Hetifah, langkah pertandingan ulang diperlukan demi menjaga rasa keadilan bagi seluruh peserta, khususnya sekolah yang merasa dirugikan dalam proses penilaian.
Baleg Kebut Penyusunan 11 RUU Prioritas, dari Penyadapan hingga Satu Data
Komisi X DPR Siapkan Langkah Selamatkan Guru Non-ASN
Adela Kanasya Adies Resmi Dilantik Jadi Anggota DPR
“Supaya semuanya berjalan adil, kami mendorong agar khusus kegiatan di Kalimantan Barat ini dilakukan pertandingan ulang,” ujar Hetifah di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (12/5).
Politikus Partai Golkar itu mengaku prihatin atas insiden yang terjadi dalam final lomba pada Sabtu (9/5) lalu. Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada para peserta, terutama siswa SMA Negeri 1 Pontianak yang menjadi sorotan dalam polemik tersebut.
Hetifah berharap peristiwa itu tidak mematahkan semangat generasi muda untuk terus berpartisipasi dalam kegiatan kebangsaan yang digelar MPR RI.
“Semoga kejadian ini tidak mengurangi semangat dan antusiasme anak-anak kita untuk terus mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan MPR RI,” katanya.
Lebih lanjut, Hetifah meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pelaksanaan lomba, mulai dari kesiapan dewan juri hingga sistem penilaian agar insiden serupa tidak kembali terulang.
Dia menilai, penyelenggaraan kegiatan yang membawa nama lembaga negara harus dilakukan secara profesional dan akuntabel agar tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat.
“Kita berharap bukan hanya dewan juri, tetapi seluruh pihak yang terlibat benar-benar mempersiapkan kegiatan ini dengan sebaik-baiknya sehingga kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.
Diketahui, babak final LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat diikuti tiga sekolah, yakni SMA Negeri 1 Pontianak, SMA Negeri 1 Sambas, dan SMA Negeri 1 Sanggau.
Polemik mencuat usai beredar potongan video di media sosial yang memperlihatkan dugaan kesalahan penilaian pada sesi pertanyaan rebutan. Respons dewan juri terhadap protes peserta pun menjadi perhatian dan menuai kritik dari warganet.