Puncak Hujan Meteor Eta Aquariid 5–6 Mei, Komet Halley Muncul Jelang Fajar

Senin, 04/05/2026 08:19 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Fenomena langit tahunan kembali hadir. Hujan meteor Eta Aquariid diperkirakan mencapai puncaknya pada 5–6 Mei 2026, menghadirkan peluang bagi pengamat langit untuk menyaksikan “bintang jatuh” yang melesat cepat dari sisa debu Komet Halley.

Fenomena ini aktif setiap tahun sejak 19 April hingga 28 Mei. Meteor tampak berasal dari arah rasi Aquarius, tepatnya di dekat bintang Eta Aquarii. Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa bintang tersebut sebenarnya tidak terkait langsung dengan hujan meteor tersebut.

Dikutip dari Live Science, hujan meteor Eta Aquariid merupakan salah satu dari dua peristiwa tahunan yang berkaitan dengan Komet Halley, yang mengorbit Matahari setiap sekitar 76 tahun. Komet ini terakhir melintas di tata surya bagian dalam pada 1986 dan diperkirakan akan kembali pada 2061.

Saat ini, komet tersebut berada jauh di luar orbit Neptunus. Namun, dua kali dalam setahun, Bumi melintasi jejak debu yang ditinggalkannya.

Partikel-partikel kecil itulah yang masuk ke atmosfer Bumi dengan kecepatan sekitar 65,4 kilometer per detik dan terbakar, menciptakan meteor cepat dengan jejak cahaya yang bertahan beberapa saat.

“Debu dari Komet Halley menciptakan meteor yang sangat cepat dan kadang meninggalkan jejak bercahaya yang cukup lama,” demikian penjelasan dari American Meteor Society dikutip Live Science.

Di belahan Bumi utara, hujan meteor ini biasanya menghasilkan sekitar 10 hingga 30 meteor per jam. Namun jumlah ini bisa lebih rendah karena titik radian terlihat cukup rendah di horizon timur.

Meski begitu, meteor tetap bisa muncul sebagai “Earthgrazers”, yaitu meteor panjang yang melintas rendah di langit.

Sebaliknya, di wilayah tropis belahan selatan, intensitasnya bisa lebih tinggi, bahkan mencapai hingga 50 meteor per jam dalam kondisi langit gelap ideal.

Tahun ini, pengamatan akan sedikit terganggu oleh cahaya Bulan. Pada malam puncak 5–6 Mei, fase Bulan berada pada kondisi cembung akhir dengan tingkat pencahayaan sekitar 84 persen. Kondisi ini diperkirakan mengurangi jumlah meteor yang terlihat menjadi kurang dari 10 per jam.

Waktu terbaik untuk menyaksikan fenomena ini adalah menjelang fajar pada 6 Mei, saat titik radian berada paling tinggi di langit dan posisi Bulan mulai rendah sehingga tidak terlalu mengganggu.

Pengamatan dapat dilakukan dengan mata telanjang tanpa alat bantu. Namun, bagi yang ingin mengabadikan momen, penggunaan kamera astrofotografi sangat disarankan.

Fenomena Eta Aquariid menjadi pengingat bahwa jejak kosmik dari masa lalu, seperti Komet Halley, masih terus memberi pertunjukan spektakuler di langit Bumi hingga hari ini. (*)

TERKINI
KPK Ungkap 27.969 Bidang Tanah Pemda Sumsel Belum Bersertifikat Awal Pekan, Harga Emas Antam Rp2,79 Juta per Gram Polisi Sudah Periksa 31 Saksi terkait Kecelakaan Kereta di Bekasi Puncak Hujan Meteor Eta Aquariid 5–6 Mei, Komet Halley Muncul Jelang Fajar