Kamis, 16/11/2023 23:28 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Masinton Pasaribu tidak banyak bicara ketika ditanya anggapan partainya menepuk air di dulang setelah ditemukan dokumen Pakta Integritas dan dugaan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Boyolali yang diminta mendukung Ganjar Pranowo di Pilpres 2024.
Anggota DPR RI itu hanya menjawab temuan-temuan itu tidak jelas sumbernya.
“Itu kan engga jelas, tabayun dulu,” kata Masinton saat ditemui di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (16/11)
Tersangka dugaan tindak pidana korupsi Pj Bupati Sorong Yan Piet Mosso ditengarai membuat Pakta Integritas dengan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Daerah Papua Barat Brigjen TNI TSP. Silaban.
Raih KWP Award 2026, Amelia Komit Jaga Ruang Digital yang Sehat dan Aman
Sekjen Demokrat Respon RUU Pemilu: Waktu Masih Panjang
Sarmuji Sabet Penghargaan Legislator Responsif Terhadap Aspirasi Publik
Pakta Integritas itu untuk mencari dukungan dan memberikan kontribusi suara pada pemilihan presiden atau Pilpres 2024 minimal sebesar 60%+1 untuk kemenangan Ganjar Pranowo di Kabupaten Sorong.
Pengamat politik dan akademisi Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin menganggap fenomena ini seperti pepatah menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri. Kendati demikian, sikap PDIP yang teriak soal kecurangan pada Pemilu, kata Ujang, bagus untuk mengawasi pemerintah agar tidak terjadi kecurangan.
“Terapi jangan lupa juga PDIP juga mempunyai kekurangan dan masalah yang menjadi sasaran tembak lawan untuk membuka kesalahan PDIP sendiri,” kata Ujang saat dihubungi Rabu malam, 15 November 2023.
Menurut Ujang, fenomena seperti itu tidak aneh di dalam politik. Semua pihak, kata Ujang, saling memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ujang mengibaratkan seperti dalam satu bis kota untuk tidak saling mendahului.
“Ketika yang satu menyerang, yang lain akan membuka aib yang menyerang,” kata Ujang.