Senin, 28/08/2023 14:58 WIB
Tokyo, Jurnas.com - Pemerintah Jepang mengaku mendapatkan berbagai telepon teror dari China, pasca melepaskan limbah radioaktif dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima ke Samudera Pasifik.
Pelepasan limbah tersebut dilakukan sebagai upaya penting menutup fasilitas nuklir yang tidak beroperasi sejak gempa dan tsunami pada 2011 silam. Namun, langkah ini ditentang sejumlah negara, termasuk China.
"Banyak panggilan telepon pelecehan yang diyakini berasal dari Tiongkok terjadi di Jepang. Perkembangan ini sangat disesalkan dan kami prihatin," kata Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Hirokazu Matsuno, dikutip dari Reuters pada Senin (28/8).
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Jepang dalam keterangan resminya menyebut bahwa Wakil Menteri Luar Negeri, Masataka Okano telah memanggil Duta Besar China untuk meminta penjelasan.
Wanita di China Lempar Uang Setara Rp2,5 Miliar dari Balkon Apartemen
China Anggap Wajar Aktivitas Militer dekat Perairan Taiwan
Mendes Sosialisasikan Program Magang di Jepang saat Dialog dengan Siswa NTB
Dikatakan, sejak Kamis pekan lalu Balai Kota Fukushima mulai menerima panggilan telepon dengan kode negara +86 yang notabene kode untuk China, dengan jumlah panggilan lebih dari 200 kali. Teror ini mengganggu aktivitas para pegawai.
Pada hari yang sama, sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di kota tersebut, yang berjarak 60 km barat laut PLTN Fukushima, menerima 65 panggilan serupa.
"Mengapa Anda melepaskan air yang tercemar ke Samudera Pasifik, yang merupakan lautan bagi semua orang," demikian bunyi salah satu telepon tersebut.
Tak hanya sekolah dan lembaga pemerintah, di kota-kota Jepang lainnya, hotel dan restoran juga menerima panggilan teror sejak dimulainya pelepasan limbah nukli Fukushima.
Keyword : Jepang Limbah Nuklir Fukushima China Panggilan Teror