Minggu, 20/08/2023 07:04 WIB
JAKARTA, Jurnas.com - Pejabat Amerika Serikat (AS) meragukan pasukan Ukraina dapat mencapai dan merebut kembali kota strategis Melitopol di wilayah tenggara selama serangan balasan yang bertujuan merebut kembali wilayah tersebut dari tentara Rusia.
Pada Kamis (17/8), militer Ukraina mengatakan telah memperoleh keuntungan di front tenggara, mendorong maju dari desa yang baru dibebaskan, Urozhine, dalam upaya upaya menuju Laut Azov.
Melitopol, yang memiliki populasi sekitar 150.000 sebelum perang, berada di bawah kendali Rusia sejak Maret 2022 dan memiliki jalan raya dan jalur kereta api yang digunakan oleh pasukan Rusia untuk mengangkut perbekalan ke daerah yang mereka duduki.
Uroshaine di wilayah Donetsk adalah desa pertama yang menurut pemerintah Kyiv telah direbut kembali sejak 27 Juli, menandakan tantangan yang dihadapinya dalam maju melalui garis pertahanan Rusia yang ditambang berat tanpa dukungan udara yang kuat.
Kemenlu Palestina Desak Gencatan Senjata Secara Menyeluruh
Trump: Satu-satunya yang Memutuskan Gencatan Senjata Adalah Saya
10 Poin Tuntutan Iran ke Amerika Serikat untuk Akhiri Konflik
Pejabat AS, yang berbicara dengan syarat anonim, mengutip laporan intelijen tentang Melitopol tetapi prediksi tersebut sebagian besar sejalan dengan pandangan Washington bahwa serangan balasan berjalan lebih lambat dari yang diharapkan.
Pejabat itu menambahkan bahwa terlepas dari laporan dan kemajuan terbatas menuju Melitopol, Washington yakin masih mungkin untuk mengubah prospek yang suram.
Penilaian Melitopol pertama kali dilaporkan oleh Washington Post.
Penasihat keamanan nasional Gedung Putih Jake Sullivan pada hari Jumat menolak berkomentar tetapi mengatakan ada sejumlah analisis tentang perang di Ukraina sejak Rusia menginvasi pada Februari 2022 dan banyak di antaranya telah berubah saat terungkap.
Rusia menguasai hampir seperlima wilayah Ukraina, termasuk semenanjung Krimea, sebagian besar wilayah Luhansk, dan sebagian besar wilayah Donetsk, Zaporizhzhia, dan Kherson.
New York Times (NYT) melaporkan, mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, jumlah tentara Ukraina dan Rusia yang tewas atau terluka sejak perang di Ukraina dimulai pada Februari 2022 mendekati 500.000.
Para pejabat memperingatkan bahwa jumlah korban tetap sulit untuk diperkirakan karena Moskow diyakini secara rutin menghitung jumlah korban tewas dan terluka akibat perang, dan Kyiv tidak mengungkapkan angka resmi, kata surat kabar itu.
Korban militer Rusia mendekati 300.000, termasuk sebanyak 120.000 kematian dan 170.000 hingga 180.000 cedera, surat kabar itu melaporkan. Kematian di Ukraina mendekati 70.000, dengan 100.000 hingga 120.000 terluka, tambahnya.
NYT mengutip para pejabat yang mengatakan jumlah korban meningkat setelah Ukraina melancarkan serangan balik awal tahun ini.
Mykhailo Podolyak, penasihat senior Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy, mengomentari artikel NYT, mengatakan hanya Staf Umum yang dapat mengungkapkan angka tersebut.
"Kami telah mengadopsi model bahwa hanya Staf Umum yang berhak menyuarakan angka-angka korban luka, cacat, orang yang kehilangan anggota tubuh, dan yang hilang, dan, tentu saja, jumlah orang yang tewas dalam perang ini," ujarnya dalam siaran langsung di kanal Youtube jurnalis Yulia Latynina, Jumat.
Sumber: Reuters