Sabtu, 10/12/2022 10:59 WIB
JAKARTA, Jurnas.com - Presiden Vladimir Putin mengatakan, Rusia tidak akan menjual minyak ke negara mana pun yang memberlakukan batasan harga pada ekspor minyaknya dan sedang mempertimbangkan untuk mengurangi produksi minyaknya.
Pada Senin, Kelompok Tujuh, Uni Eropa dan Australia memberlakukan batas harga minyak Rusia $60 per barel dalam sebuah langkah yang bertujuan mengurangi kemampuan Moskow untuk membiayai perangnya di Ukraina.
"Saya telah mengatakan bahwa kami tidak akan menjual ke negara-negara yang membuat keputusan seperti itu," kata Putin pada Jumat dalam konferensi pers yang diadakan setelah pertemuan puncak regional di ibu kota Kyrgyzstan, Bishkek.
"Kami akan mempertimbangkan kemungkinan pengurangan produksi jika perlu," tambahnya, menyebut batasan harga sebagai keputusan bodoh" yang "berbahaya bagi pasar energi global".
Kemenlu Palestina Desak Gencatan Senjata Secara Menyeluruh
Trump: Satu-satunya yang Memutuskan Gencatan Senjata Adalah Saya
10 Poin Tuntutan Iran ke Amerika Serikat untuk Akhiri Konflik
Sebelumnya, Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengatakan, tindakan Barat itu adalah gangguan besar yang bertentangan dengan aturan perdagangan bebas. Dia berpendapat kebijakan ini akan mengguncang pasar energi global, dan memicu terjadinya kekurangan pasokan.
"Kami sedang mempersiapkan mekanisme untuk melarang penggunaan instrumen pembatasan harga, terlepas dari tingkat yang ditetapkan, karena gangguan semacam itu dapat membuat pasar semakin tidak stabil," kata Novak.
"Kami akan menjual minyak dan produk minyak bumi hanya ke negara-negara yang akan bekerja dengan kami di bawah kondisi pasar, bahkan jika kami harus sedikit mengurangi produksinya," tambah dia.
Novak mengatakan pembatasan Barat dapat memicu masalah di pasar BBM, dan dapat memengaruhi negara-negara lain selain Rusia.
Ekspor minyak dan gas ke Eropa telah menjadi salah satu sumber utama pendapatan mata uang asing Rusia sejak pakar geologi Soviet menemukan minyak dan gas di rawa-rawa Siberia pada dekade setelah Perang Dunia Kedua.