Rabu, 24/08/2022 18:35 WIB
JAKARTA, Jurnas.com - Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Mansuai Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian (Kementan) terus berkomitmen mencetak 2,5 juta petani milenial yang maju, mandiri, berdaya saing, dan berjiwa kewirausahaan.
Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo mengatakan, 70 persen petani saat ini berusia lanjut atau di atas 50 tahun. Karena itu, regenerasi petani harus terus dilakukan untuk melanjutkan tongkat estafet pembangunan pertanian.
"Pemuda sebagai generasi milenial harus memiliki motivasi dalam bidang pertanian untuk menggerakkan pertanian di Indonesia. Hadirnya petani sertawirausahawan pertanian milenial berperan penting dalam mendorong pengembangan jejaring usaha di wilayahnya," ujarnya.
Sementara itu, Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi mengatakan, sebagai komitmen Kementan untuk membangun wirausaha muda pertanian, pihaknya menyediakan beragam program.
Fellowship Tanoto Foundation Cohort Dibuka, Ini Kriteria dan Jadwalnya
Rapat dengan BKD Batal, Pembahasan RUU Pemilu Tertunda
Catat Ya! Ini Enam Tanda Tubuhmu Kekurangan Vitamin C
"Banyak sekali porgam Kementan untuk membangun wirausaha muda pertanian antara lain melalui pendidikan vokasi," kata Dedi saat memberikan keterangan pers terkait Persiapan Wisuda Nasional Polbangtan Lingkup Kementan di Jakarta, Rabu (24/8).
Dalam membangun wirausaha muda pertanian objeknya bukan hanya pendidikan vokasi yang dilakasakan Kementan, tapi juga pendidikan vokasi yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.
"Jadi sasaran kita adalah alumni pendidikan vokasi. Jadi, sekali lagi pembangunan wirausaha muda pertanian salah satu caranya adalah melalui pendidikan vokasi baik yang dilaksakan Kementan maupun yang dilaksanakan Kemendikbud.
Tak sampai di sana, pembanguna wirausaha muda pertanian juga terus digalakkan melalui pelatihan, terutama melalui pelatihan smart farming (pertanian cerdas).
Di samping itu, lanjut Dedi, pihaknya juga terus mendorong para penyuluh untuk menstimulir para petani muda yang ada di wilayahnya masing-masing agar mampu mendongkrak produktivitas.
"Kemudian ada program yang lain yaitu melalui pengembaggan Duta Petani Milenial (DPM) dan Duta Petani Andalan (DPA). Saat ini kita sudah membangun dimulai dari lebih 2 ribu DPM dan DPA dua tahun lalu yang sudah dikukuhkan Bapak Presiden," kata Dedi.
"Penumbuhan ada program Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP), bahkan kita juga punya program Youth Enterpreneurship And Employment Support Services (YESS). Ini juga ditujukan untuk mengembangkan wirausaha muda pertanian," tambahnya.
Di samping menyediakan berbagai program, Dedi mengatakan, Kementan juga telah menyediakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk diakses para petani muda dalam menggerakkan roda agribisnisnya.
"Pertanian tahun ini target alokasi KUR-nya Rp 90 triliun dan saat ini baru terpakai sekitar Rp 70 triliun. Kita terus mendorong agar petani milenial segera mengakses KUR," ajak Dedi.
Tak hanya menyediakan KUR, Kementan juga terus berupaya mempermudah petani milenial dan kolotnial dalam mangakse KUR. Di antaranya dengan melakukan Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
"KUR itu persembahan pemerintah melalui Kementan untuk para petani kita dengan bunga yang relatif rendah, yaitu hanya 6 persen. Oleh karena itu, para petani milenial harus akses ini. Rugi kalau kalau tidak dimanfaatkan," kata Dedi.
Selanjutnya, Kementan juga melakukan pelatihan-pelatihan cara mendapatkan modal KUR langsung dari pihak Bank Himbara. "Termasuk mereka mengajarkan cara membuat proposal yang bisa meyakinkan bank bahwa agribisnis kita menguntungkan," ujarnya.