Setiap 12 Juli, dunia memperingati Hari Malala (Malala Day) sebagai bentuk penghormatan terhadap Malala Yousafzai, aktivis pendidikan asal Pakistan yang menjadi simbol perjuangan hak pendidikan anak dan perempuan di seluruh dunia
Atria Books, sebuah cetakan dari Simon & Schuster, mengumumkan memoar tersebut pada Senin (17/4). Saat ini belum diberi judul dan tidak memiliki tanggal rilis yang dijadwalkan.
Kelompok bersenjata, yang sekarang berkuasa di Afghanistan, menutup sekolah menengah perempuan hanya beberapa jam setelah dibuka kembali minggu ini, memicu protes kecil oleh perempuan dan anak perempuan di ibu kota Kabul.
Wanita berusia 24 tahun, yang tinggal di Inggris, mengatakan dia dan suami barunya bernama Asser, telah menikah di kota Birmingham dan merayakannya di rumah bersama keluarga mereka.
Sudah satu bulan sejak militan garis keras Taliban, yang merebut kekuasaan pada Agustus, melarang anak perempuan kembali ke sekolah menengah sementara memerintahkan anak laki-laki kembali ke kelas.
Pada 10 Oktober 2014, komite Nobel memberikan hadiah perdamaian kepada Malala Yousafzai dan Kailash Satyarthi, aktivis hak-hak anak
Malala tak kuat menahan tumpah ruah air mata dari pelupuk matanya. Enam tahun sudah Pakistan dia tinggalkan, sejak diburu oleh militan Taliban pada 2012 lalu.
Malala kabarnya akan melakukan pertemuan khusus dengan Perdana Menteri Pakistan Shahid Khaqan Abbasi.
Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Malala Yousafzai mendesak masyarakat internasional untuk melindungi hak minoritas etniis Rohingya di Myanmar
Namun ketika dia memimpin negara itu, ketika Rohingnya alami kekerasan, dan seluruh dunia mengecam, timbul pertanyaan; Kenapa Diam?