Selasa, 15/10/2019 08:09 WIB

Pengembangan Keterampilan Khusus Jembatani Kekurangan Tenaga Kerja

Pengembangan keterampilan khusus untuk anak muda cukup efektif memperkecil jurang antara kebutuhan tenaga kerja terampil dan minimnya keterampilan pencari kerja.

Nono Sumarsono Berbicara di Hadapan Forum Alumni Pemberdayaan Ekonomi Kaum Muda Jawa Tengah, di Semarang

Semarang – Pengembangan keterampilan khusus untuk anak muda cukup efektif memperkecil jurang antara kebutuhan tenaga kerja terampil dan minimnya keterampilan pencari kerja. Hal inilah yang diterapkan oleh Plan International Indonesia, saat menggelar acara ‘Pelatihan Kaum Muda menuju Dunia Kerja’, yang terbukti mampu mengurangi keterbatasan tenaga kerja terampil, terutama di Semarang, Jawa Tengah.

“Sebanyak 87 persen peserta ‘Pelatihan Kaum Muda menuju Dunia Kerja’ telah meraih pekerjaan layak. Di tempat kerjanya, mereka yang didominasi anak muda perempuan ini berkembang menjadi pekerja produktif,” kata Deputy Country Director Plan International Indonesia, Nono Sumarsono, dalam acara Pengukuhan Forum Alumni Pemberdayaan Ekonomi Kaum Muda Jawa Tengah, di Ungaran, Semarang, Kamis (27/10).

Sebelumnya, Kementerian Tenaga Kerja menyebutkan bahwa hingga tahun 2030, Indonesia masih kekurangan 115 juta tenaga terampil. Sedangkan saat ini, Indonesia baru memiliki 55 juta tenaga terampil.

Dalam siaran pers yang diterima Jurnas.com, Nono menyebut semua kalangan, termasuk pemerintah, perlu mencari solusi terbaik untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja terampil di kalangan anak muda. Apalagi saat ini persaingan antara tenaga kerja lokal dengan tenaga kerja asing semakin terbuka.

Sebagai organisasi kemanusiaan independen yang berkomiten agar anak terbebas dari kemiskinan, kekerasan & ketidakadilan, Plan International Indonesia mengimplementasikan sejumlah program, mencakup perluasan akses anak muda, terutama perempuan, di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi.
‘Pelatihan Kaum Muda menuju Dunia Kerja’ yang diimplementasikan bersama Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BPPLK) dan Magistra Utama diharapkan menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja terampil, khususnya di Semarang.

Program yang berjalan sejak Januari 2014 ini didesain untuk memberdayakan anak muda, terutama yang marjinal, termasuk anak muda berkebutuhan khusus. Proyek yang pendanaannya didukung oleh Plan International Jerman ini merupakan bagian dari program pemberdayaan ekonomi anak muda (Youth Economic Empowerment) Plan International Indonesia.

“Bersama BBPLK, Plan International membangun mata rantai pemberdayaan anak muda untuk memasuki dunia kerja. Sementara ini, di Semarang kami fokus pada pengembangan keterampilan kerja di bidang resto dan retail,” kata Mirza Kusuma, National Project Manager Youth Economic Empowerment Plan International Indonesia.

Setidaknya, menurut Mirza, di kedua bidang tersebut sangat terlihat adanya kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga kerja terampil. Dalam program ini, Plan International Indonesia menggandeng Paguyuban HRD Jawa Tengah, untuk memfasilitasi penempatan kerja para peserta pelatihan.

Dalam kesempatan tersebut, sekitar 300 alumni pelatihan berkumpul, dan mengukuhkan Forum Alumni Pemberdayaan Ekonomi Kaum Muda Jawa Tengah. Mereka memanfaatkan momentum Hari Sumpah Pemuda, untuk memperkuat pemberdayaan anak muda, khususnya di bidang ekonomi.

“Mereka berkomitmen membangun jaringan untuk memperbesar peluang memperoleh kesempatan kerja yang layak. Melalui forum tersebut, mereka saling bertukar informasi,” tutup Mirza.

TAGS : Keterampilan Kerja Plan International Indonesia BBPLK Kemiskinan Jurnas




TERPOPULER :