Selasa, 09/03/2021 00:47 WIB

APDI Imbau Pedagang Sapi Jabodetabek Kembali Berdagang

Kenaikan harga karkas di RPH saat ini dipicu kenaikan harga sapi bakalan asal Australia selama satu semester terakhir, yang pada Juni 2020 masih berada di kisaran USD 2,8 per kg berat hidup dan kini pada Januari 2021 menjadi USD 3,78 per kg berat hidup.

Daging sapi segar (Foto: Istimewa)

Jakarta, Jurnas.com - Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) dan Harian Asosiasi Pedagang Daging Sapi Indonesia (APDI), Asnawi mengimbau kepada seluruh pedangang sapi Jabodetabek untuk kembali berdagan mulai Jumat (22/1).

Imbauan tersebut disampaikan setelah Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) menyepakati harga timbang karkas di rumah pemotongan hewan (RPH) tidak lebih dari 94.000 per kg atau setara dengan timbang hidup sapi Rp 46.000-47.000.

"Dengan ini kami mengimbau teman-teman pedagang daging mohon kiranya besok, Jumat 22 Januari 2021 dapat perdagang kembali," kata Asnawi dalam keterangannya diterima Jurnas.com, Kamis (21/1) malam.

Sebelumnya, pedagang daging sapi di wilayah Jabodetabek sepakat mogok berjualan selama tiga hari, terhitung dari Rabu (20/1) lalu.  Aksi mogok berjualan itu dilakukan sebagai bentuk protes atas melonjaknya harga daging sapi di RPH

Dilansir dari Kompas.com, Sekretaris Dewan Pengurus Daerah APDI DKI Jakarta, Tb Mufti Bangkit menjelaskan, harga per kilogram daging sapi yang belum dipisah antara tulang dan kulitnya Rp 95.000. Harga tersebut dinilai terlalu mahal untuk dijual kembali ke pasar.

"Ditambah cost produksi, ekspedisi total sudah Rp 120.000-lah. Sedangkan harga eceran tertinggi ditetapkan pemerintah Rp 120.000. Belum karyawan, belum pelaku pemotong sendiri kan harus (memberi uang) anak istri di rumah," kata Mufti Selasa (19/1).

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kemendag, Suhanto menegaskan bahwa stok daging sapi saat ini tersedia untuk memenuhi kebutuhan nasional.

"Saat ini stok daging sapi tersedia cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional. Kemendag terus berupaya menjaga stok agar masyarakat tetap memiliki akses ke daging sapi," kata Suhanto saat kunjungan ke PT Suri Nusantara Jaya-Cold Storage, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (21/1).

Suhanto menjelaskan, Kemendag telah berkoordinasi dengan APDI dan memperoleh informasi bahwa harga karkas di tingkat RPH mengalami penyesuaian sekitar 11,6-12,6 persen pada Januari 2021.

Menurut Suhanto, kenaikan harga karkas di RPH saat ini dipicu kenaikan harga sapi bakalan asal Australia selama satu semester terakhir, yang pada Juni 2020 masih berada di kisaran USD 2,8 per kg berat hidup dan kini pada Januari 2021 menjadi USD 3,78 per kg berat hidup.

Faktor utama penyebab kenaikan harga sapi bakalan di Australia diakibatkan adanya program repopulasi, pemenuhan permintaan konsumsi dalam negeri, dan peningkatan permintaan dari negara lain terutama di tiga bulan terakhir di negara tersebut.

"Sebagai upaya menindaklanjuti mogok sebagian pedagang daging sapi di wilayah Jadetabek, dalam jangka pendek Kemendag telah berkoordinasi dengan pemasok daging sapi dan APDI untuk memastikan kelancaran distribusi pasokan dan ketersediaan daging di pasar di wilayah Jadetabek," ujar Suhanto.

Selain itu, lanjut Suhanto, Kemendag juga telah bertemu dengan para importir sapi bakalan dan mengimbau para importir untuk membantu menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga sapi bakalan sampai di RPH dengan harga yang dapat menjamin agar pedagang daging sapi di pasar rakyat tetap dapat berjualan dengan keuntungan yang wajar.

"Dalam kondisi saat ini, Kemendag terus berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dan berbagai pihak lainnya agar harga daging sapi di tingkat eceran masih dapat dijangkau oleh masyarakat dengan ketersediaan yang cukup," ujar Suhanto.

Kemendag juga akan mempersiapkan strategi baru sebagai alternatif guna memenuhi permintaan daging sapi.

TAGS : Mogok Jualan Daging Sapi Daging Sapi Mahal Kemendag




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :