Rabu, 27/01/2021 10:33 WIB

Strategi BKKBN Pangkas Angka Stunting

Tidak mudah mencapai target tersebut mengingat di situasi pandemi virus corona baru (COVID-19) yang belum diketahui kapan akan barakhir. 

Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo saat membuka dan memberikan sambutan Internastional Webinar Lessons Learned From the Success Story of Peru in Reducing Stunting di Jakarta, Kamis (26/11).

Jakarta, Jurnas.com - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), memiliki peran sangat penting dalam penurunan angka stunting, yang ditargetkan menurun pada 2024, hingga berada di angka 14 persen.

Demikian kata Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo saat membuka dan memberikan sambutan Internastional Webinar "Lessons Learned From the Success Story of Peru in Reducing Stunting" di Jakarta, Kamis (26/11).

Hasto mengakui bahwa tidak mudah mencapai target tersebut mengingat di situasi pandemi virus corona baru (COVID-19) yang belum diketahui kapan akan barakhir. Untuk itu, perlu straregi atau reorientasi program untuk mempercepat terealisasinya target tersebut.

"Sumber daya yang ada harus secara tepat dan cepat digerakkan dan digunakan pada intervensi yang strategi dan tentu harus dipilih yang mempunyai daya ungkit yang besar, sektor-sektor yang bisa menuruntkan stunting secara cepat," jelasnya.

BKKBN sebagai sebagai salah satu lembaga pemerintah, yang memiliki tugas mengawal pertumbuhan penduduk yang seimbang dan keluarga berkualitas diatur Undang-Undang Dasar (UUD) nomor 52 tahun 2009.

Mantan Bupati Kulon mengatakan, untuk melahirkan keluarga berkualitas, BKKBN yang memiliki peran strategis dalam mencegah dan menangani kasus stunting akan fokus pada pendekatan keluarga.

"Dalam hal ini titik intervensinya pada remaja putri, calon pengantin termasuk calon pasangan usia subur, promosi Asi eksklusif dan juga penguatan pelayakan keluarga berencana (KB) pasca persalinan," ujar Hosto.

Selain itu, lanjut Hasto, BKKBN juga melakukan sosialiasi kepada masayarakt terkait usia perkawinan yang ideal untuk mencegah terjnadinaya perkawinan di usia dini.

"Di Indonesia banyak sekali terjadi morbiditas dan mortalitas termasuk janin tumbuh lambat di dalam rahim terjadi tidak sedikit dan kelahiran prematur dengan berat badan yang tentu di bawah standar juga tidak sedikit," ungkap Hasto.

Oleh karena itu, kehamilan yang ideal pada usia yang ideal ini menjadi sangat penting. Jumlah anak dan jarak kehamilan/melahirkan juga tidak kalah pentingnya dalam memangkas angka stunting.

"Kita tahu bahwa salah faktor yang erat dengan stunting adalah jarak. Yaitu jarak dari antara hamil dan hamil berikutnya, maupun jarak antara kelahiran sekarang dan kelahiran berikutnya," kata Hasto.

Hasto mengatakan, saat ini BKKBN memilik perwakilan di 34 provinsi, penyuluh sebanyak 23.600 di tingkat kabupaten, kecematan, desa dan di subdesa. Selain itu, juga memiliki kader sebanyak 1,2 juta yang tersebar di seluruh desa dan subdesa di 34 provinsi.

"Untuk itu, pemerintah Indonesia memang mengarahkan pasangan usia subur untuk menundah usia perkawinan bagi perempuan yang belum berusia 21 tahun dan pria 25 tahun. Ini menjadi kebijakan yang ditetapkan BKKBN," kata Hasto.

"Jika mereka menika menikah di usia yang lebih muda  dari usia yang ditetapkan dalam program pendewasaan usia perkawinan, maka mereka diingatkan untuk menunda kehamilan menggunakan alat kontrasepsi sampai usia ideal hamil minimal usia 20 tahun," sambungnya.

Hasto juga mengatakan, BKKBN merencanakan melakukan gerakan pemberian pelayakan secara masif kepada pada seluruh ibu yang melahirakn di seluruh fasilitas kesehatan Indonesia.

"Di tahun 2020 kami sudah menyiapakan IUD yang siap dipasang untuk ibu menyusui pasca persalinan. Kami juga sudah menyiapkan implan atau susuk yang hanya satu batang supaya praktis dan agar tidak sekit pasca persalinan," sambungnya.

 

TAGS : BKKBN Hasto Wardoyo Cegah Studing




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :