Senin, 18/01/2021 11:44 WIB

Ilmuwan Korsel Temukan Cara Ubah Emisi Karbon Jadi Semen

Teknologi ini membantu pembangkit listrik, pabrik baja, dan pembuat semen, yang mengeluarkan banyak gas rumah kaca

ilustrasi salah satu pabrik di Korsel

Jakarta, Jurnas.com - Ilmuwan Korea Selatan mengatakan bahwa mereka telah mengembangkan teknologi yang dapat mengeluarkan karbon dioksida dari emisi industri dan mengubah gas penghangat iklim menjadi kalsium karbonat, yang kemudian dapat diadaptasi untuk berbagai kegunaan.

Koh Dong-yeun dan timnya di Korea Advanced Institute of Science and Technology, KAIST, mengatakan mereka telah mengembangkan perangkat untuk mengubah karbon dioksida menjadi bahan padat, yang dapat digunakan untuk membuat semen dan bahan lainnya.

Pernyataan dari KAIST muncul dua bulan setelah Koh dan timnya mempublikasikan temuan mereka ke situs online ACS Sustainable Chemistry and Engineering, jurnal peer-review.

"Teknologi ini membantu pembangkit listrik, pabrik baja, dan pembuat semen, yang mengeluarkan banyak gas rumah kaca, untuk meningkatkan daya saing mereka dengan mengurangi emisi dan mendaur ulang sumber daya," kata Koh, dilansir UPI, Selasa (24/11).

Para ilmuwan mengatakan membran ultrapermeabel adalah fondasi dari "modul serat berongga" di inti teknologi, yang dapat digunakan pada cerobong asap pabrik.

"Kami menunjukkan bahwa modul serat berongga berdasarkan membran ultrapermeabel yang disintesis dengan polimer mikroporositas intrinsik (PIM-1) memiliki potensi untuk secara langsung memanfaatkan karbon dioksida dari tumpukan gas buang melalui reaksi karbonasi padat yang berkelanjutan, "kata tim Korea Selatan.

Hanya karbon dioksida yang dapat melewati membran modul. Begitu di sisi lain, karbon dioksida bereaksi dengan ion logam alkali untuk membentuk kalsium karbonat, kata para ilmuwan.

Tim di KAIST juga mengatakan modul serat berongga 20 kali lebih kecil dari perangkat konvensional.

Karbon dioksida dalam emisi merupakan penyumbang utama gas rumah kaca. Akhir pekan ini, Lingkaran Arktik rata-rata 12 derajat Fahrenheit di atas normal, menurut Reanalyzer Iklim Universitas Maine.

TAGS : Peneliti Korsel Emisi Karbon Rumah Kaca




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :