Sabtu, 28/11/2020 09:06 WIB

Mentan Syahrul Lepas Ekspor Perdana Cabai Kering ke Pakistan

Pelepasan ini merupakan ekspor kedua setelah sebelumnya komoditas cabai kering juga menembus pasar Negeri Jepang, yang jumlahnya mencapai 23 ton

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo di sela pelepasan ekspor perdana cabai kering asal Sulawesi Selatan sebanyak 21 ton ke Pakistan, Minggu, 22 November 2020. (Foto: Kementan/Jurnas.com)

Makassar, Jurnas.com - Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo melepas ekspor perdana cabai kering asal Sulawesi Selatan sebanyak 21 ton ke Pakistan, Minggu, (22/11).

"Ini sesuatu yang mengembirakan karena pertanian tidak hanya tumbuh secara masif untuk kepentingan ketahanan pangan, tetapi juga ekspor kita terus berkembang. Bahkan tidak hanya dalam bentuk kuantitasnya, tapi juga beragam komoditas seperti cabai bisa di ekspor ke Pakistan untuk campuran pewarna tekstil mereka," kata Syahrul.

Menurut Syahrul, pelepasan ini merupakan ekspor kedua setelah sebelumnya komoditas cabai kering juga menembus pasar Negeri Jepang, yang jumlahnya mencapai 23 ton dan dikirim secara bertahap.

"Ini menjadi prospek karena komoditas cabai bisa kita panen setiap saat. Bahkan potensi kita juga cukup tinggi. Sekarang ini mereka punya kontrak 100 ton, tapi ke depan kami siap backup untuk ekspor di angka 1000 ton," katanya.

Menurut Mentan, keberhasilan ekspor menuju pasar baru di Asia bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi dalam perjalananya eksportir selalu dihadapkan dengan perizinanan dan tingkat kepercayaan terhadap suatu negara.

Karena itu, mantan Gubernur Sulawesi Selatan itu ingin para pengusaha dan eksportir terus berjalan konsisten walau komoditas yang diekspor masih sebatas komoditas biasa.

"Jangan diukur seberapa besar uangnya karena yang paling penting kita tidak istirahat langkahnya. Tidak ada yang berhenti dan jajaran pertanian tidak boleh istirahat. kenapa? karena pertanian itu tidak mengenal hari," katanya.

Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil menambahkan, yang terpenting dalam proses ekspor adalah memperhatikan hilirisasi produk pertanian menjadi salah satu fokus upaya peningkatan ekspor nasional.

"Produk pertanian segar yang tidak tahan lama atau bersifat perishable maka harus dilakukan hilirasasi yang memberi nilai tambah dan menjamin keberterimaan produk di negara tujuan, karena tidak mudah rusak dan mutu terjaga," katanya.

Adapun selain ekspor cabai kering, Syahrul juga melepas komoditas pertanian asal subsektor perkebunan, tanaman pangan dan hortikultura seperti biji, kulit, cangkang, kelapa parut, karet, porang, cincau hitam, pisang, manggis hingga kencur dengan total 114,1 ton atau senilai Rp21,3 miliar dengan negara tujuan benua Asia dan Eropa.

Berdasarkan data lalu lintas ekspor pertanian di Karantina Makassar tercatat bahwa pertumbuhan negara tujuan ekspor meningkat sebesar 8 persen, yakni 133 negara tujuan ekspor di tahun 2019 dan 143 negara tujuan hingga Oktober 2020 atau bertambah 10 negara tujuan baru seperti Thailand India dan Cina.

"Selaku koordinator gugus tugas peningkatan ekspor pertanian, kami akan terus mendorong tumbuhnya pelaku usaha dengan membuka akses informasi peluang ekspor pertanian seluas-luasnya," tukas Jamil.

Sebagai informasi tambahan, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Oktober 2002, nilai ekspor pertanian terus mengalami pertumbuhan positif hingga sebesar USD 0,42 miliar atau tumbuh 1,26% jika dibandingkan sebelumnya.

TAGS : Cabai Kering Ekspor Perdana Negara Pakistan Komoditas Sulawesi Selalatan Syahrul Yasin Limpo




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :